Minggu, 19 Februari 2006

Peluang dan Tantangan Budi Daya Ikan Betutu



Ikan betutu dikenal dengan berbagai sebutan di berbagai daerah dan negara: ada yang menyebut dengan nama “ketutu” (disingkat K22), ada yang menyebut “gabus malas”, “bakut”, “gloso”, “bloso”, boso, “boboso”, “bodobodo”, “ikan malas”, “ikan hantu”, “sun hock” (Cina), “marble goby” atau “marble sleeper” (Inggris), dan ada pula yang menyebut dalam bahasa Latin “oxyeleotris marmorata”.

Ini bukan spesies baru di Negara kita, justru sebaliknya ada yang menyatakan sebagai ikan asli perairan Indonesia yang habitatnya hidup di lingkungan air payau atau air tawar yang tenang dan dangkal seperti sungai, danau, rawa, waduk dan lain sebagainya dan banyak ditemukan di Pulau Sumatera, Kalimanta, dan Pulau Jawa.

Sebagai salah satu komoditas produksi hasil perikanan dalam negeri, ikan betutu memang tidak sepopuler ikan lele, gurame atau nila yang sudah dibudidayakan secara luas dan massal oleh masyarakat dengan kapasitas dan volume produksi yang boleh dibilang sudah hampir “over product”. Namun demikian, di balik ketidak-populerannya itu ditambah berbagai macam khasiat dan kandungan gizinya justru membuat ikan ini tergolong ikan langka yang sangat diminati oleh konsumen dalam maupun luar negeri dari kalangan eksekutif dengan harga jual yang juga selangit. Sebagai misal, pembeli asal Singapura menawar ikan betutu Sulawesi Utara dengan harga Rp. 300 ribu/kg dan minta kiriman 100 ton setiap minggu. Padahal produksi ikan betutu di seluruh Indonesia setiap bulannya hanya mencapai kisaran puluhan ton. Jelas hal itu masih jauh dari permintaan pasokan pasar luar negeri.

Sementara itu di pasar lokal, menu masakan ikan betutu juga telah masuk di kota-kota besar seperti Palembang, Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta. Tarip menu ikan betutu di hotel-hotel berbintang berkisar antara Rp 250.000,00 – Rp 300.000,00 untuk satu porsi dengan ukuran 0,8 kg -1 kg. Sedangkan harga ikan betutu hidup di tingkat tengkulak atau brooker bervariasi antara Rp 75.000,00 – Rp 100.000,00 per kilogramnya.

Ada yang mengatakan, ikan betutu merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi bukan hanya di konsumsi lokal melainkan juga merupakan komoditas ekspor. Harga ikan betutu di tingkat eksportir berkisar Rp.120.000-Rp.590.000 perkilogramnya, untuk ukuran 300 – 400 g/ekor.

Usaha budi daya ikan betutu hingga saat ini sebagian besar masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, sudah gitu pelaku usahanya juga belum begitu banyak. So, masih terbuka lebar peluang bagi kita semua untuk mencoba merintis usaha sungguhan ataupun sampingan di bidang yang satu ini. Apalagi bila diketahui, ikan betutu itu bisa dibudidayakan dengan mudah melalui berbagai media, baik itu kolam tanah (tambak), keramba apung, kolam semen, bak fiber, maupun di kolam terpal. Tetapi lebih afdlolnya ya di kolam tanah (tambak) atau setidaknya dalam sistem keramba apung. Apa sebab? Karena melihat sifat dan kebiasaan makannya, ikan ini lebih menyukai pakan hidup berupa ikan-ikan kecil daripada pakan buatan (pellet). Dan caranya mencari mangsa juga tidak agresif, hanya pasif (malas), hanya menunggu dan memangsa makanan yang lewat di depan mulutnya. Dengan budidaya di kolam tanah atau keramba apung di rawa atau waduk seperti yang saya kembangkan sekarang ini, maka nyaris kita tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar untuk pemberian pakan, karena di kolam tanah ataupun rawa dan waduk, ikan-ikan kecil seperti udang rawa/waduk (cakung), wader pari, dan lain-lain sebagai mangsanya telah tersedia cukup banyak dan datang menghampiri sendiri untuk dimangsa oleh si betutu.

Dengan sistem keramba apung maka kita tidak perlu lagi resah karena merasa tidak memiliki cukup lahan darat ataupun tambak untuk mengembangkan usaha budi daya perikanan. Kita, kalau mau, masih bisa mengembangkan usaha budi daya perikanan dengan cara memanfaatkan sungai, rawa, waduk, danau yang ada di lingkungan kita melalui sistem keramba apung. Bukankah negara kita ini memiliki banyak wilayah perairan umum (laut, bengawan, sungai, danau, rawa, kali, dan lain sebagainya)? Dengan sistem keramba maka biaya operasionalnya sangat murah meriah. Sebagai misal, kita tidak perlu lagi mikir mengganti air, memperbaiki pematang, menambal kolam, dan lain sebagainya. Dengan keramba apung maka cara pemanenan pun bisa dilakukan secara simpel dan praktis, bahkan bisa dilakukan seorang diri tanpa harus meminta bantuan tenaga kerja lain (kuli/preman).

Namun demikian, budidaya ikan betutu bukannya tidak ada tantangan dan hambatan. Salah satu tantangannya yang sering membuat kita nyaris frustrasi adalah pertumbuhannya yang sangat lamban. Dari benih ukuran 5 cm untuk bisa mencapai berat 3 ons atau 4 ons (sekitar 20-25 cm) butuh waktu tidak kurang dari 8-12 bulan. Sementara dari segi hambatan yang paling terasa dalam budidaya ikan betutu ini adalah masalah ketersediaan benih yang masih amat langka, karena selama ini kebanyakan masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, yang sudah barang tentu kapasitas produksinya tidak bisa stabil, kadang banyak kadang sedikit. Apalagi bila diingat, penyebaran ikan betutu ini belum merata, hanya di daerah-daerah tertentu (tidak semua perairan tawar terdapat spesies ikan betutu). Dan kalaupun di daerah-daerah tertentu ada yang sudah berhasil mengembangkan teknologi pemijahan, baik secara alami, kawin suntik atau dengan bantuan hormone tertentu, namun kuantitas hasil produksinya juga masih dibilang jauh dari cukup. Nah, sekarang saatnya berhenti bicara, kita simak saja pesan iklan yang satu ini: “Talk less Do more”, Selamat berkarya, and sukses selalu buat anda. Jayalah perikanan Indonesia. Dahhh…!

Sumber : http://malesmania.wordpress.com/

www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label:



Sabtu, 18 Februari 2006

Cara Pembenihan Ikan Betutu (2)



Induk ikan Betutu yang akan dipijah berukuran 800 – 1.500 gram per ekor.Pasalnya ada korelasi positif antara bobot induk dengan jumlah telur yang dihasilkan induk dengan kisaran bobot tersebut diatas dapat menghasilkan telur sebanyak 5.000 – 30.000 butir. Jumlah telur sangat bervariasi tergantung kondisi induk dan tingkat kematangan gonad. Induk-induk ikan betutu yang akan dipijah harus diperhatikan secara praktis tingkat kematangan gonad induk ikan betina dapat diketahui dari ukuran celah genitalnya. Induk ikan jantan juga kelihatan warna merah disekitar lubang pelepas. Ada kalanya jika bagian bawah perut diurut akan keluar cairan berwarna putih.

Pemijahan induk ikan Betutu dapat dilakukan secara alami atau dengan stimulasi hormon. Pemijahan betutu tidak mengenal musim dan dapat berlangsung sepanjang tahun tiga sampai empat kali setahun. Kemauan memijah biasanya akan meningkat pada musim hujan, sebaliknya kurang pada musim kemarau.

a. Pemijahan alami
Tempat pemijahan betutu dilakukan di kolam tanah dan bak fiber glass. Penebaran induk antara jantan dan betina 1 : 1. Padat
penebarannya dilakukan untuk 100 ekor induk pada luasan kolam 20 x 30 m, kedalaman 1 – 2 m, dasar dan pinggir kolam bersiring tembok, memiliki pergantian air secara terus menerus, tempat pemijahan harus dilengkapi saluran pemasukan air (inlet) dan saluran pembuangan (outlet). Telur dikeluarkan dari tubuh betina yang sudah matang gonad dengan menyemprotkannya ke substrat. Substrat untuk penempelan telur tersebut terbuat dari potongan pipa paralon berukuran 4 – 6 inchi yang dibelah dan kemudian diikat kembali guna memudahkan pada saat mengecek keberadaan telur. Jumlah sarang yang ditempatkan dalam kolam bekisar 20 – 30 buah untuk sejumlah pasang induk tersebut. setiap induk bertelur pada substrat membentuk lingkaran yang diselimuti lendir. Telur tersebut dipindahkan ke aquarium bervolume 40 – 60 liter. Kedalam aquarium dapat diisi 2 – 3 sarang dan diberi aerasi untuk suplay udara sampai telur menetas.

b. Kawin suntik
Tujuan kawin suntik yaitu untuk mendapatkan produksi telur dalam julah lebih banyak, yang memungkinkan benih ikan diproduksikan secara masal dan terjadwal. Hal ini dilakukan jika fasilitas hatchery untuk pemeliharaan larva cukup memadai, sehingga pengaruh kegagalan bisa dikurangi. Hormon yang digunakan untuk menstimulasi pemijahan Betutu adalah ovaprim. Hormon disuntikan ketubuh ikan secara intra muscular pada bagian dorsal dekat sirip punggung. Penyuntikan dilakukan 2 kali dosis yang dianjurkan 0,5 ml/ kg bobot badan. Selang waktu penyuntikan pertama dan kedua berkisar 10 – 12 jam. Waktu ovulasi induk-induk antara 36 – 60 jam.

Sumber : http://budidayanews.blogspot.com/

www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label:



Jumat, 17 Februari 2006

Ikan Betutu, Ikan Malas Berkulitas Ekspor



BENIH merupakan bagian utama dalam budidaya ikan. Pada tingkatan yang sederhana benih ikan dapat diperoleh dari hasil penangkapan di alam, sedang pada tingkat yang lebih maju dapat diperoleh dari hasil pembenihan ikan milik petani (swasta) maupun dari Balai Benih Ikan (BBI).Lain halnya ikan Betutu/bakut (Oxyeleotris marmorata) atau marbled goby alias ikan bodoh/malas yang terbilang ikan konsumsi mahal belum ada yang sangat serius mengelola pembenihannya, akibatnya perkembangbiakannya sangat menghawatirkan, sehingga populasi dari tahun ke tahun semakin menurun. Ikan betutu memang mendapatkan julukan gabus malas atau ikan malas karena ikan ini memang malas berpindah tempat. Sekalipun diusik, betutu cenderung diam saja di dasar air. Hanya di malam hari ikan betutu aktif mencari makan (nocturnal) berupa udang-udang kecil, kepiting, dan siput air.

Ikan betutu sebagai ikan air tawar dengan Habitat di air payau, sungai-sungai yang tidak jauh dari muara atau pantai, berarus tenang dan berlumpur, rawa serta danau dengan dasar berlumpur, betutu termasuk ikan labirin karena mampu hidup diperairan yang keruh dengan bantuan lembar-lembar labirin pada lapis insangnya.

Ikan dengan ciri berkepala besar ini memiliki panjang tubuh maksimum sekitar 65 cm, namun kebanyakan antara 20–40 cm atau kurang. Berwarna merah bata pudar, kecoklatan atau kehitaman, dengan pola-pola gelap simetris di tubuhnya. Tanpa bercak bulat (ocellus) di pangkal ekornya. Ciri-ciri lainnya adalah sirip dorsal (punggung) yang sebelah muka dengan enam jari-jari yang keras (duri)dan yang sebelah belakang dengan satu duri dan sembilan jari-jari yang lunak. Sirip anal dengan satu duri dan 7–8 jari-jari lunak. Sisik-sisik di tengah punggung, dari belakang kepala hingga pangkal sirip dorsal (predorsal scales) 60–65 buah. Sisik-sisik di sisi tubuh, di sepanjang gurat sisi (lateral row scales) 80–90 buah.

Untuk Bobot ikan betutu biasanya sekitar 4 kilo per ekor bahkan bisa sampai 8 kilo per ekor dan harganya bekisar 130 ribu sedangkan untuk bibit biasanya dijual dengan harga 35/40 ribu per kilonya. Satu kerambah biasanya menghasilkan 30 s/d 40 kg bahkan bisa sampai 300 kg.

Pusat budidaya betutu yang di miliki Kutai Kartanegara di kecamatan Kenohan biasanya di beli oleh pengepul dari kota bangun yang datang langsung ke pemilik keramba lalu pengepul menjual kembali ke pengusaha dari Balikpapan untuk di ekspor ke Singapura, India dan Thailand. Ikan betutu bila sudah masuk ke restoran maka harganya bisa mencapai Rp 250.000,00 – Rp 300.000,00 untuk satu porsi dengan ukuran 0,8 kg -1 kg.

“Kami mengalami kesulitan untuk mendapat bibit apalagi bila air bangar, ikan-ikan tak dapat hidup dan bibit-bibit betutu akan susah di dapat. selain itu penyakit kulit berlendir yang dapat menyebabkan kematian dan kami belum dapat mencegah atau menanggulagi masalah ini “ ujar Isuk salah seorang petani keramba di Kecamatan Kenohan

Ia juga menambahkan ikan betutu biasanya di beri makan ikan segar yang dipotong-potong dan di luar negri ikan ini sudah bisa di budidayakan dan tidak lagi menggunakan ikan-ikan segar tetapi makannya diganti dengan pellet.

Dibawah asuhan (UPR) upaya pemberdayaan rakyat nelayan betutu berusaha membudidayakan ikan sehingga nantinya hasilnya dapat lebih ditingkatkan, ia juga berharap agar para peneliti dapat mengelola inofasi baru dalam pembibitan ikan betutu

Ikan ekonomis di perairan mahakam

Betutu merupakan salah satu ikan ekonomis yang ada di perairan mahakam, pada umumnya keramba terbuat dari kayu ulin atau kahoi berukuran 2X3X1,25 meter dan untuk mengapungkannya biasanya keramba menggunakan batang kayu atau drum. Umumnya keramba dapat di pakai untuk 2 sampai 4 tahun atau 3 sampai 4 kali pemeliharan.

Untuk benih umumnya ikan betutu berasal dari tangkapan nelayan di sekitar danau Semayang menggunakan tempirai, bubu, tahanan dan rengge. Ikan tersebut berwana hitam seperti ikan gabus dengan Rasanya manis dan daging empuk serta berserat lembut ini biasanya para nelayan menggunakan pakan hidup berupa ikan segar di potong-potong atau ikan kecil segar, cincangan keong mas dan cacing tanah. Pemberian pakan di lakukan satu kali satu hari menjelang sore atau keadaan mulai gelap tetapi bila menjeng panen pemberian pakan di sesuaikan kebutuhan ikan biasamya sekitar 8-9 Kg perkeramba perhari.

Untuk penyakit atau hama yang terdapat pada ikan betutu di pengaruhi oleh musim yang menyebabkan perubahan kualitas air. Ada beberapa cara sederhana mencegah lendir dan koreng pada ikan betutu dengan merendam larutan air garam selama 1-2 menit atau dengan menggunakan larutan PK (kalium permangat) sebanyak 3-4 tetes ke dalam 5 liter air selama 30-60 detik

Sahran Kepala Dinas Perikanan di dampingi Kasubag bagian Umum Muslik mengatakan untuk budidaya ikan betutu sejauh ini masih tergantung dari alam, belum ada penelitian lebih lanjut tentang pembenihan ikan. Terkait tentang ketergantungan bibit ikan betutu dengan alam dinas Perikanan membantu para nelayan membuat daerah larangan untuk menagkap ikan sehingga populasi ikan tersebut tidak terganggu.

Ikan Betutu yang menjadi ikan favorit untuk dijadikan ikan asap bagi masyarakat juga memiliki harga yang baik. Untuk itu dinas perikanan memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana untuk membantu para nelayan agar hasilnya budidaya ikan tersebut dapat berkembang dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar

“Kami sudah mencoba melakukan pembenihan dengan mendatangkan bibit-bibit dari luar tetapi itu semua gagal di lakukan karena bibit yang di datangkan terlalu kecil sehingga tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan, mungkin bila bibit-bibit tersebut agak lebih besar dapat tahan terhadap lingkungan” ujarnya.

Untuk itu, dinas perikanan mensiasatinya dengan mengarahkan para nelayan ke sektor-sektor pembudidayaan dan pemasaran sehingga kulitas yang di hasilkan dapat meningkat di setiap tahunnya walaupun masalah bibit hanya tergantung dari alam. Untuk kerjasama dengan pihak universitas di bidang penelitian ikan Betutu terutama pembenihan belum dilakukan tetapi dinas perikanan telah bekerjasama dengan Universitas Mulawarman untuk program Konserfasi air dan pelatihan-pelatihan bagi para nelayan untuk meningkatkan kualitas menjadi agenda rutin dinas perikanan. Biasanya para nelayan mengikuti pelatihan dari balai-balai perikanan yang di selenggarakan oleh badan riset kelautan dan perikanan.

Ikan betutu mempunyai sifat genetis yang berbeda dengan ikan budidaya lainya yakni pertumbuhan badan yang lambat dengan kata lain tidak mudah bongsor dan masa pemeliharaan yang cukup lama sehingga kalo dilihat dari lamanya perkembangan kurang menguntungkan tetapi bila dilihat dari harga jualnya yang mencapai 130 ribu maka bubidaya betutu tetap memberikan keuntungan yang tinggi.

Dalam budidaya ikan betutu ini juga dapat meningkatkan UPR masyarakat, contohnya saja bukan hanya ikan betutnya yang tinggi harganya tetapi benih bibit ikannya pun memiliki harga yang tinggi di pasaran yang mencapai 35/40 ribu per kilonya.

Sumber : http://www.vivaborneo.com/

www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label:



Kamis, 16 Februari 2006

Cara Pembenihan Ikan Betutu (1)



Sebagaimana yang dilakukan terhadap berbagai jenis ikan lainnya, untuk memulai memijahkan ikan betutu, ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Mulai dari seleksi indukan hingga proses pemijahannya harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan kesabaran.

Langkah – langkah yang harus dilakukan oleh pembudidaya ikan betutu adalah :

A. SELEKSI INDUKAN

Ikan betutu yang akan dijadikan indukan harus memenuhi berbagai persyaratan berikut ini :
* Mempunyai berat 150 – 200 gram.
* Tubuh ikan betutu jantan lebih ramping dari ikan betutu betina.
* Diperoleh dengan cara menangkap dari alam.
* Dalam kondisi sehat.
* Organ tubuhnya lengkap.
* Berada dalam masa produktif.

B. PERSIAPAN PEMIJAHAN

Induk yang akan dipijahkan dapat ditempatkan ke dalam kolam pemijahan dan diadaptasikan terlebih dahulu selama 2 bulan. Kolam pemijahan harus dilengkapi dengan substrat yang akan digunakan sebagai tempat untuk menempelkan telur.

Substrat ini dapat dibuat dari pipa paralon berdiameter 4 inci dengan panjang 40 cm yang dibelah dan kemudian dijadikan satu kembali dengan menggunakan tali.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam merawat indukan adalah :
* Setiap hari air kolam dibersihkan dengan cara mengganti 30 % air lama dengan air baru.
* Pakan yang dapat diberikan adalah berupa pellet yang mempunyai kadar protein sebesar 50 % agar proses kematangan gonad dapat dipercepat menjadi 2 bulan.
* Dosis pakan yang diberikan untuk setiap harinya adalah sebesar 3 % dari total berat badan ikan dan diberikan sebanyak 3 kali dengan porsi makan malam lebih besar daripada makan pagi dan siang.
* Ciri – ciri indukan yang telah matang gonad adalah : Jantan : jika perutnya diurut akan keluar sel sperma. Betina : perutnya membuncit, alat kelaminnya terlihat dan berwarna kemerahan.

C. PEMIJAHAN

Proses pemijahan akan terjadi pada malam hari. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pembudidaya ikan betutu setelah proses pemijahan terjadi :
1. Pengontrolan terhadap substrat sarang telur.
2. Memindahkan substrat – substrat tersebut ke dalam kolam penetasan yang telah berisi air dan teraerasi.
3. Telur akan menetas dalam kurun waktu 2 – 3 hari pasaca pemijahan oleh karenanya substrat harus diangkat.
4. Setelah menetas, pakan yang diberikan terhadap larva – larva ini harus disesuaikan dengan umurnya. Umur 1 – 8 hari : paramecium; Umur 1 bulan : rotifera; Umur 1,5 bulan : moina.]
5. Setelah menjadi burayak, segera pindahkan mereka ke dalam bak bersirkulasi dengan kepadatan tebar 200 ekor.
6. Pakan yang dapat diberikan kepada burayak adalah berupa cacing rambut, pelet dan ikan runcah. Pakan ini dapat diberikan 3 kali sehari dan berlangsung selama 2,5 bulan.
7. Setelah beratnya mencapai 2 gram, burayak ikan betutu dapat segera dimasukkan ke dalam karamba yang berukuran 50 x 50 ( mampu menampung 10 ekor ) dimana karamba nanti diletakkan ke dalam kolam berukuran 5 x 7 m. Selama berada disana, benih ikan dapat diberi pakan berupa ikan dan udang – udang kecil dan dipelihara selama 2,5 bulan hingga beratnya mencapai 10 gram dan siap untuk dipindahkan ke dalam kolam pembesaran.

Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan Malang
http://benihikan.net/

www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label:



Rabu, 15 Februari 2006

Ikan Betutu ( Malas tapi Mahal )



Bagi masyarakat Lampung Timur dan sekitarnya khususnya di Way seputih tentu sangat paham sekali tentang nama sungai yang satu ini, demikian pula tentang ikan betutu yang menjadi salah satu jenis ikan yang menghuni dasar kali di sepanjang way seputih dan anak anak sungainya.

Ikan betutu memang memiliki keunikan tersendiri bagi warga sekitar aliran sungai way seputih termasuk bagi desa Bungur, selain harga jualnya yang mahal ikan ini cenderung susah susah gampang untuk ditangkap, sesuai dengan sebutan salah satu namanya betutu itu ikan malas.

Tergelitik dari sebutan ikan betutu yang disebut ikan malas inilah kita coba cari tahu yang sebenarnya tentang ikan betutu dan mengapa ikan betutu menjadi salah satu jenis ikan yang spesial akhir akhir ini.

Betutu (Oxyeleotris marmorata) adalah nama sejenis ikan air tawar. Meskipun agak jarang yang berukuran besar, ikan yang menyebar di Asia Tenggara hingga Kepulauan Nusantara ini digemari pemancing karena betotan (tarikan)nya yang kuat dan tiba-tiba.

Nama-nama lainnya di pelbagai daerah di Indonesia adalah bakut, bakutut, belosoh (nama umum), boso, boboso, bodobodo, ikan bodoh, gabus bodoh, ketutuk, ikan malas, ikan hantu dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris disebut marble goby atau marble sleeper, merujuk pada pola-pola warna di tubuhnya yang serupa batu pualam kemerahan. Seperti dicerminkan oleh namanya, ikan ini malas bergerak atau berpindah tempat. Ia cenderung diam saja di dasar perairan, sekalipun diusik. Hanya di malam hari betutu agak aktif, memburu udang, ikan-ikan kecil, yuyu, atau siput air. Ikan betutu didapati di sungai-sungai di bagian yang terlindung, rawa, waduk, saluran air atau parit.

Ikan dengan ciri berkepala besar ini memiliki panjang tubuh maksimum sekitar 65 cm, namun kebanyakan antara 20–40 cm atau kurang. Berwarna merah bata pudar, kecoklatan atau kehitaman, dengan pola-pola gelap simetris di tubuhnya. Tanpa bercak bulat (ocellus) di pangkal ekornya. Ciri-ciri lainnya adalah sirip dorsal (punggung) yang sebelah muka dengan enam jari-jari yang keras (duri); dan yang sebelah belakang dengan satu duri dan sembilan jari-jari yang lunak. Sirip anal dengan satu duri dan 7–8 jari-jari lunak. Sisik-sisik di tengah punggung, dari belakang kepala hingga pangkal sirip dorsal (predorsal scales) 60–65 buah. Sisik-sisik di sisi tubuh, di sepanjang gurat sisi (lateral row scales) 80–90 buah.

Ikan betutu tiba-tiba saja menjadi ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena dipercaya mampu meningkatkan vitalitas pria. Bayangkan saja, ikan dengan rasa daging yang biasa-biasa saja ini harganya bisa mencapai Rp.120.000 hingga Rp.190.000 perkilogramnya, untuk ukuran 300 – 400 g/ekor. Tak heran, saat ini banyak sekali orang yang berusaha membudidayakannya. Namun penyumbang utama ketersediaan ikan betutu di pasaran adalah dari hasil penangkapan di alam. Selain dipercaya manjur untuk meningkatkan kejantanan laki-laki, ikan betutu juga bisa diolah sebagai obat untuk para pasien selepas operasi. Negara-negara seperti Singapura dan Jepang termasuk yang getol mengimpor ikan ini dari Indonesia.

Kembali ke masalah vitalitas pria, tak heran kini ikan betutu menjadi menu masakan yang disajikan di berbagai restoran (baik restoran mewah atau biasa saja) di kota-kota besar seperti Palembang, Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta. Harganya bisa gila-gilaan, tarip menu ikan betutu di hotel-hotel berbintang bisa menembus Rp 250.000,00 – Rp 300.000,00 untuk satu porsi dengan ukuran 0,8 kg -1 kg.

Khusus untuk warga desa Bungur yang tercinta, ini peluang untuk menjadi yang lebih baik,bbudi daya ikan betutu memang sulit tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan, pengalaman dan terus berusaha pasti akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan tentunya dapat merubah kehidupan keluarga dan warga desa bungur semua, semoga dengan ikan malas ini mejadi lahan emas bagi kita semua amiin.

Sumber : http://mbahdaur.blogspot.com/

www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label:



Minggu, 05 Februari 2006

Cara Pemijahan Ikan Betutu



Ikan Betutu (ikan malas) memiliki kelebihan tahan hidup di perairannya yang terbatas. Ikan ini sering dipasarkan dalam bentuk hidup. Ikan yang tergolong mahal ini merupakan makanan favorit di pasar ikan di Bangkok. Meski kulitnya berwarna menyeramkan, tetapi daging di dalamnya berwarna putih bersih.

A. Pengenalan Jenis

Awalnya, ikan gabus malas adalah hama yang mengusik ketenangan ikan-ikan peliharaan di kolam, sama seperti belut. Namanya sesuai dengan kebiasaan hidupnya. Ikan ini hampir-hampir tidak bergerak saking malasnya. Oleh karena itu, ikan ini harus diberi pakan hidup agar bereaksi. Ikan gabus malas dikenal juga dengan nama betutu. Ikan betutu memiliki sisik tipe ctenoid. Artinya, bentuk sisik kecil­-kecil dan menyelimuti sekujur badannya. Pada bagian kepala sisik, terdapat moncong, pipi, dan operculum. Bagian operculum sisik ini lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya. Sirip dubur lebih pendek dari sirip punggung kedua.

Ikan ini mudah dibedakan dengan ikan lainnya karena mempunyai warna tubuh cokelat kehitaman. Pada bagian punggungnya berwarna hijau gelap, sedangkan warna bagian perutnya lebih terang. Bagian kepala memiliki tanda berwarna merah muda. Betutu bisa tumbuh hingga mencapai 45 cm. Badannya berbentuk bulat panjang. Mulutnya bisa dibuka lebar dan siap menyantap mangsanya yang melintas di depannya. Sirip ekor berbentuk membulat (rounded) dengan kulit tubuh dihiasi belang-belang kecokelatan.

Jenis gabus malas atau ikan betutu yang dikenal di antaranya sebagai berikut. 1) Broadhead sleeper atau Dorminator lotifrans
Ikan ini tersebar di Kepulauan Pasifik dan Amerika Tengah serta Meksiko bagian Selatan, baik di air asin maupun air tawar. Panjang tubuhnya bisa mencapai hingga 25 cm. Broadhead sleeper suka makan ikan-ikan kecil.
2) Spotted Goby atau Dorminator maculatus
Ikan ini bisa tumbuh sampai 25 cm. Spotted Goby tersebar di Kepualauan Pasifik dan Amerika Tengah, baik di laut ataupun di air payau.
3) Morgunda-morgunda atau purple-striped gudgeon
Ikan yang tergolong buas ini terdapat di perairan tawar di Australia Utara dan Tengah. Panjang tubuhnya bisa mencapai 20 cm.

B. Kebiasaan Hidup di Alam

Benih ikan gabus Bering tampak seperti serombongan ikan cere (Lebistes reticulates) di kolam. Gabus malas ini berasal dari Kalimantan, Sumatera, Malaysia, dan Thailand. Ikan ini hidup di sungai, rawa dengan kedalaman 40 cm, dan menyukai perairan yang dangkal.

Ikan betutu ini cenderung memilih tempat yang gelap, berlumpur, berarus tenang, atau wilayah bebatuan untuk bersembunyi. Di Indonesia, ikan ini ditemukan di Palembang, Muara Kompeh, Gunung Sahilan, Jambi, Danau Koto, Sungai Russu, Bua-bua, Banjarmasin, Sintang, Montrado, Batu Pangal, Smitau,Danau Boran, Pontianak, Sungai Kapuas, Serawak dan Ternate, Sungai Cisadane, Bengawan Solo, dan beberapa sungai besar lainnya.

1. Kebiasaan makan
Di alam, betutu menyantap pakan yang jaraknya sangat dekat. Dengan bentuk mulut yang sangat lebar, bukan halangan bagi betutu untuk mengenyangkan perutnya. Betutu termasuk golongan karnivora. Jenis pakan yang disukai adalah ikan-ikan kecil, cacing, atau organisme lainnya, asalkan masih hidup. Ikan ini bisa menyantap pakan ini dalam jumlah yang besar setiap harinya.

2. Kebiasaan berkembang biak
Di alam, betutu akan kawin pada musim penghujan di tempat yang berpasir bersih. Ikan ini kawin secara berpasangan. Telurnya akan dietakkan di dasar atau ditempelkan pada substrat, pinggiran batu, atau akar pokok kayu yang bersih. Telurnya akan tampak seperti kabut atau kapas yang sangat lembut dan halus yang menempel pada substrat.

C. Memilih Induk

Induk betutu umumnya dikumpulkan dari alam sebab perlu waktu yang lama dan pakan yang sangat banyak untuk menghasilkan induk di kolam. Induk-induk ini umumnya dikumpulkan di antara betutu dewasa dan diseleksi yang memiliki badan sehat. Induk jantan dapat dibedakan dari induk betina dengan melihat ciri-ciri morfologis sebagai berikut.

Ciri induk yang berkualitas

Betina
Badannya berwana lebih gelap.Bercak hitam lebih banyak. Papila urogenital berbentuk tonjolan memanjang yang lebih besar, membundar, warnanya memerah saat menjelang memijah. Ukurannya lebih kecil dibandingkan yang jantan pada umur yang sama. Berbadan sehat. Dewasa.

Jantan
Badannya berwana lebih terang. Bercak hitam lebih sedikit. Papila orogenital berbentuk segitiga, pipih, dan kecil. Pada umur yang sama ukurannya lebih besar daripada betina. Berbadan sehat. Dewasa.

D. Pemijahan di Kolam

Awalnya, betutu adalah ikan liar yang kehadirannya tidak dikehendaki di kolam pemeliharaan karena suka memangsa ikan yang dipelihara di dalamnya. Oleh karena itu, bila hendak memijahkan betutu di dalam kolam maka persiapannya harus matang agar tidak ada ikan lain yang masuk ke dalam kolam dan mengganggu proses pemijahan ikan betutu.

1. Konstruksi kolam pemijahan ikan betutu
Luas kolam pemijahan bervariasi antara, tergantung ketersediaan lahan. Kolam berbentuk persegi panjang dengan letak pintu pemasukan dan pembuangan berseberangan secara diagonal. Tujuannya agar kolam bisa memperoleh air dari saluran langsung dan pembuangannya pun bisa lancar. Debit air kolam minimal 25 liter/menit. Pergantian air yang kotinyu akan berpengaruh positif terhadap proses pemijahan.

Tehnik memijahkan ikan betutu (Oxyeleotris marmoroto) dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan secara alami dan pemijahan secara induksi (kawin suntik). pada pemijahan alami tidak mengenal musim, bisa 3-4 kali dalam satu tahun. Ikan betutu mempunyai keinginan untuk memijah biasanya ketika musim hujan. Pada musim hujan perkembangbiakan ikan betutu ini akan meningkat. Pada puncak musim kemarau (Juli-September) betutu agak malas untuk berkembangbiak, tetapi pada pemeliharaan intensif ikan betutu ini dapat memijah dengan pemberian pakan yang berkualitas.

Pemijahan secara alami dilaksanakan di kolam pemijahan yang berukuran 20 x 10 m2 dengan kedalaman air 70-80 cm atau pada bak semen yang lebih sempit. Debit air dijaga sekitar 25 liter/menit. pada kolam pemijahan dilengkapi dengan sarang berbentuk segitiga yang terbuat dari asbes yang disatukan, berukuran 30 cm. Tempat penempel telur ini sekaligus menjadi kolektor telur.

2. Persiapan kolam
Induk dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk kolam pemijahan seluas 200 m2, dapat disiapkan induk yang rata-rata berukuran 300 g sebanyak 35-40 pasang. Sementara untuk kolam kecil, dengan luas 8 m2, dapat dimasukkan induk sebanyak 3-4 pasang. Sebelum induk dimasukkan, kolam pemijahan dilengkapi dengan sarang pemijahan berupa segitiga yang dibuat dari asbes. Ukuran panjang segitigiga 30 cm yang diikat dengan kawat dan diberi pelampung untuk mempermudah mengetahui keberadaannya.

Induk dimasukkan ke dalam kolam pemijahan setelah kolam terisi air setinggi 40-45 cm. Selama proses pemijahan, sebaiknya kolam memper­oleh pergantian air secara kontinyu. Proses pergantian air secara kontinyu ini terbukti mampu merangsang pemijahan hampir semua jenis ikan secara alami.

3. Pemijahan
Tingkah laku pemijahan ikan betutu meliputi 5 tahap, yaitu membentuk daerah kekuasaan, membuat sarang pemijahan, proses kawin, memijah dan meletakkan telurnya pada sarang, dan menjaga telurnya. Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari, tetapi tidak jarang pada Siang hari betutu juga memijah. Ikan ini akan kawin di dalam segitiga sarang pemijahan. Selanjutnya, telur yang dihasilkan akan ditempelkan ke dalam kotak segitiga sarang pemijahan tersebut.

E. Penetasan Telur dan Perawatan Benih

Telur ikan betutu berbentuk lonjong, transparan. Ukurannya sangat kecil, kira-kira hanya bergaris tengah 0,83 mm. Telur tersebut melekat pada dinding sarang. Setelah kontak dengan air selama 10-15 menit, membran vitelinya akan mengembang terns dan panjang telur meningkat sekitar 50 % hingga telur berukuran 1,3 mm.

Penetasan telur dilakukan di akuarium dengan mengangkat sarang pemijahan yang telah berisi telur. Sebuah sarang pemijahan bisa ditempati oleh sepasang induk, tetapi bisa juga ditempati beberapa ekor induk. Kapasitas akuarium sebaiknya minimal 60 liter. Untuk menjamin proses penetasan, diberi aerasi agak kuat, dan ditetesi beberapa tetes Malachytgreen atau Metilen blue untuk mencegah jamur (fungi). Telur yang terserang jamur akan tampak putih berbulu dan sebaiknya segera disifon agar tidak menulari telur yang lain.

Jumlah telur dalam setiap sarang berkisar 20.000- 30.000 butir. Telur tidak menetas dalam waktu yang bersamaan. Biasanya, penetasan berlangsung 2-4 hari. Setelah telur menetas, kekuatan aerator dikurangi. Adapun persentase telur yang menetas antara 80—90%.

F. Pendederan

Pendederan dimaksudkan untuk memelihara larva yang baru menetas dan sudah habis kuning telurnya (yolk sack) ke dalam kolam untuk memperoleh ikan yang seukuran sejari (fingerling). Pendederan biasanya dibagi menjadi 2 bagian, yaitu pendederan I dan pendederan II.

Pendederan I dilakukan di dalam bak atau kolam yang lebih kecil, berukuran 5 m x 2 m dengan kedalaman 1 m. Kolam ini dipasangi hapa dengan ukuran mata 500 mikron (0,5 mm) yang berukuran 100 cm x 75 cm dan tinggi 60 cm.

Banyaknya hapa yang dipasang tergantung benih yang akan ditebar. Kepadatan penebaran di dalam hapa pada pendederan I yaitu 30.000 ekor /m2 atau 3o ekor/liter air. Jadi, ke dalam bak tersebut dapat ditampung sebanyak 100.000-150.000 ekor larva, hasil dari 3-5 buah sarang, dengan kedalaman air 50 cm. Lama pemeliharaan di dalam pendederan I ini yaitu 2 bulan. Dengan pakan yang disuplai dari luar, akan dihasilkan benih seukuran 1-2 cm dengan tingkat hidup mencapai 20%.

Untuk pendederan 11, dibutuhkan kolam yang luasnya 50 m2 dengan ukuran 5 m x 10 m dan kedalaman kolam 0,7 meter. Kolam dipupuk dengan kotoran ayam sebanyak 0,5-1,5 kg /m2, tergantung dari kesuburan kolam. Lama pemeliharaan di pendederan II yaitu 4 bulan dan akan dihasilkan benih betutu berukuran 10 cm (30-50 g) dengan tingkat kehidupan bisa mencapai 100%.

G. Pembesaran

Pembesaran dimaksudkan untuk menghasilkan betutu berukuran konsumsi. Kolam yang dibutuhkan seluas 200-600 m2. Kolam diusahakan memperoleh air barn dengan konstruksi pematang kolam dari tanah dengan terlebih dahulu dipastikan tidak bocor. Idealnya, kolam betutu dengan pematang yang ditembok. Di dalam kolam ditempatkan beberapa tempat persembunyian berupa ban bekas atau dawn kelapa karena betutu menghendaki lingkungan yang agak remang-remang.

Kolam dipupuk terlebih dahulu dengan kotoran ayam dengan dosis 0.5-1.5 kg/m2. Kolam diairi dengan air yang sudah lewat saringan. Selanjutnya, benih berukuran ditebarkan. Adapun kepadatan penebaran tergantung benih yang ditebarkan. Untuk benih berukuran 100 g dapat ditebarkan 20 ekor/m2, sedangkan yang berukuran 175 g dapat ditebarkan sebanyak 8 ekor/m2. Dalam tempo 5 bulan, benih yang beratnya 100 g dapat tumbuh menjadi 250 g/ekor, sedangkan yang berukuran 175 g dapat mencapai berat 400 g/ekor selama 6 bulan.

Sumber : http://budidayanews.blogspot.com/

www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label: