Minggu, 26 Februari 2006

Penyakit dan Gangguan Kesehatan Pada Itik / Bebek dalam Usaha Budidaya Itik / Bebek




Walaupun tidak berakibat fatal, Penyakit / Gangguan Kesehatan harus tetap diwaspadai. Tanda-tanda Itik / Bebek sakit, is menolak makan, tidak bersuara, gerakannya lamban atau pasif. Contoh Penyakit / Gangguan Kesehatan Itik / Bebek antara lain berak kapur. Ditandai kotoran Itik / Bebek berwarna hijau dengan bercak putih. Penyakit / Gangguan Kesehatan ini diduga karena bakteri Salmonella typhimurium. Pengobatan yang dianjurkan memberikan Nitrofurans, Sulfa, atau antibiotik lainnya. Salah satunya dengan mencampur pakan dengan Furazolidon 0,0011%.
Penyakit / Gangguan Kesehatan yang sering dijumpai adalah kelumpuhan karena kualitas pakan buruk atau kadaluwarsa, Itik / Bebek makan bangkai, dan terlalu banyak berada di tanah becek. Cara tradisional mengatasi Itik / Bebek lumpuh, telankan butiran es batu. Dianjurkan tidak memberikan pakan nabati berjamur, seperti jagung dan bungkil yang sudah lama. Pakan kadaluwarsa itu mengandung Aspergillasis flavus yang dapat meracuni Kati sehingga menyebabkan kelumpuhan.
Penyakit / Gangguan Kesehatan lain yang pernah dijumpai peternak di Mojosari, adanya sejenis cacing yang menempel di tenggorokan. Cara menanggulanginya dengan mencabut cacing yang menempel dengan pinset. Setelah itu diberikan obat Tetrachlor.
Gejala serangan Itik / Bebek, tidak mau makan dan tidak bersuara. Kadangkala Itik / Bebek tidak nafsu makan. Resep yang ditawarkan peternak Itik / Bebek di Tegal, 200 lembar daun mengkudu, 10 lembar daun pepaya, dan 1 kg temuireng ditumbuk. Air hasil rebusan bahan itu dicampurkan dalam ransum pakan. Kasus keracunan karena pakan basi atau bangkai bisa diatasi juga dengan jamu asam dan gula. Beberapa aditif yang dapat ditambahkan dalam air minum Itik / Bebek antara lain Calgophus untuk mencegah defisiensi mineral dan trace elemen lainnya dan Vitamin untuk menambah vitamin.

Label:



Ayam Kebal Flu Burung




Kloning ayam yang memiliki kekebalan terhadap serangan flu burung merupakan alternatif yang saat ini telah dilakukan di tingkat laboratorium. Ini dianggap sebagai alternatif yang lebih efisien ketimbang melakukan vaksinasi. 


Sebuah tim ahli yang dipimpin oleh Dr. Laurence Tiley melalui Multi-institute British Research Project, bekerjasama dengan Dr. Helen Sang dari Roslin institute Edinburg, Scotland, melakukan ekplorasi potensi penciptaan ternak unggas yang memiliki sifat resisten terhadap virus flu burung dengan menggunakan teknologi modifikasi genetik.

Strategi untuk memperoleh ayam kebal flu burung dilakukan dengan mempertimbangkan mekanisme kekebalan alamiah dan memadukan dengan metode pembaharuan yang inkonvensional. Pekerjaan ini bertujuan memproduksi ayam yang memiliki kekebalan terhadap semua strain virus flu burung baik yang bersifat HPAI maupun LPAI.

Apabila ayam kebal flu burung tersebut telah diproduksi secara massal dan diperdagangkan secara komersial, maka akan terjadi efisiensi –secara teknis maupun ekonomis- dalam memproduksi vaksin. Artinya, tidak diperlukan lagi vaksin flu burung yang jika kita hitung kombinasi strainnya dapat mencapai 135 jenis.

Sebenarnya terdapat beberapa alasan mengapa penelitian itu dilakukan. Pertama, flu burung telah menjadi persoalan global saat ini. seluruh dunia berada pada posisi pertengahan wabah terbesar internasional yang pernah tercatat dari jenis virus HPAI. Ratusan juta ternak telah dibantai dalam rangka pengendalian penyakit. Hal ini telah menyebabkan penderitaan tersendiri bai para peternak.

Kedua, adanya kekhawatiran kemampuan virus untuk menular dan berkembang antar spesies, yakni kemungkinan besar terhadinya penularan dari hewan ke manusia. Lebih lanjut dari manusia ke manusia. Ayam merupakan jembatan spesies yang potensial bagi penularan virus berbahaya ini dan dapat memfasilitasi penularan dari unggas liar ke manusia. Apalagi, dengan dipergunakannya vaksin yang tidak homolog dengan virus lokal, terlebih lagi berasal dari impor, dapat menyebabkan penambahan ‘kekayaan’ bibit penyakit di negara ini. Hal ini dapat merepotkan pemberantasannya di kemudian hari jika wabah terjadi dengan strain yang lebih ganas. Bahkan keganasan akan dipercepat berkat keberadaan bahan genetika dari virus yang bervariasi. Ini tentu bukan hal yang diharapkan.

Ketiga, teknologi modifikasi genetik sendiri memiliki potensi besar dalam menyebarkan jenis ternak yang tahan terhadap serangan penyakit. Rendahnya popularitas dan kepercayaan masayarakat terhadap teknologi modifikasi genetik pada produksi bahan makanan diharapkan berbeda dalam tujuan pengamanan bahan pangan ini.

Keempat, tim pelaksana proyek itu sendiri memiliki kemampuan menguasai penelitian dasar untuk mengembangkan mekanisme molekuler dalam mengendalikan replikasi virus influenza. Pencapaian teknologi di tingkat laboratorium sudah seharusnya segera dipergunakan secara aplikatif di lapangan.

Dasar pengembangan manupulasi genetif tersebut diperoleh dari adanya protein yang dikenali sebagai Mx dengan kode Mx1 dari tikus yang bersifat sangat protektif terhadap serangan flu pada model penyakit tersebut. sedangakan protein Mx pada ayam bersifat inaktif. Terdapat satu jenis protein polimorfisme dari Mx ayam yang diduga aktif melawan influenza.

Hingga sejauh ini masih dilakukan pencarian lokus gen lain yang membawa sifat mengaktifkan protein Mx pada ayam tersebut untuk memperoleh ayam yang resisten terhadap serangan flu burung. Untuk itu diperlukan tindakan inkonvensional, yakni modifikasi genetik pada ayam yang dirancang memiliki kekebalan terhadap flu burung, yang tidak dapat hanya dilakukan dengan cara selective breeding.

Strategi lain yang dikembangakan adalah dengan mencari RNA mikro yang memiliki kemampuan menghambat virus dalam mengasilkan protein esensial bagi perkembangbiakan virus di dalam sel. Selain itu juga menggunakan RNA penjebak yang dapat mencegah mesin perbanyakan virus dari interaksi dengan genom virus.

Dasar-dasar penemuan ini dapat dikembangkan pada berbegai jenis hewan antara lain : ayam broiler, petelur, puyuh, kalkun, itik, bahkan juga pada bagi. Hewan-hewan transgenik dari hasil modifikasi genetik tersebut sangat memungkinkan diperoleh di masa mendatang.

Ditulis oleh : Drh. Harjuli Hatmono, Msi. Kepala Bidang Kelembagaan Sekretariat Bakorluh Jateng; Bidang Pembinaan Kelembagaan Tani ada DPD Perhiptani Jateng

Label:



Strategi Pengendalian Gumboro




Untuk menghindari kerugian akibat kematian yang tinggi, pertumbuhan yang tidak optimal ataupun efek imunosupresif akibat kasus Gumboro, maka pencegahan kasus ini harus menjadi prioritas utama. 

Penyakit Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD) yang ditemukan pertama kali di Delaware USA sekitar tahun 1950-an, sampai saat ini masih kerap muncul di lapangan. Sudah berbagai macam vaksin dicoba namun kejadian Gumboro masih tetap dijumpai. Terutama pada masa peralihan musim seperti sekarang ini, kasus lebih sering banyak muncul. Kondisi lingkungan dan cuaca yang cepat berubah meningkatkan cekaman pada anak ayam. 

Kejadian Gumboro biasanya pada ayam berumur 3-4 minggu. Namun di daerah yang tantangan virus lapangannya tinggi kasus bisa terjadi di minggu-minggu awal kehidupan ayam, yaitu kurang dari umur 2 minggu. Ayam yang pernah terserang virus IBD laju perkembangannya menjadi kurang optimal. Pencapaian berat badan terlambat dan FCR nya menjadi lebih tinggi. Selain itu ayam menjadi lebih rentan terhadap agen penyakit infeksius. 

Oleh sebab itu, meminimalisir dan mengeliminasi faktor pencetus munculnya penyakit ini di lapangan merupakan hal yang sangat penting. Hal ini sebenarnya bukan semata-mata menjadi tanggungjawab peternak di tingkat komersial (pedaging ataupun pullet), namun pembibit dan feedmil seharusnya juga mempunyai andil yang tidak kalah penting. Munculnya kasus Gumboro dipicu oleh beberapa hal yang saling berkaitan diantaranya yaitu, kualitas DOC, kualitas pakan, manajemen pemeliharaan, program kesehatan dan vaksinasi, dan biosekuriti. 

Kualitas DOC

Peternak komersial tidak mempunyai kendali pada kualitas DOC yang dibelinya. Mereka hanya bisa memilih mana yang dianggap baik ataupun tidak, berdasarkan pengalaman sendiri dan referensi dari peternak lain. Kalau kebetulan pembibit yang sudah diyakininya mempunyai konsistensi dan komitmen tinggi dalam menjaga mutu produknya beruntunglah peternak, karena salah satu beban untuk eliminasi kasus Gumboro sudah berkurang.

DOC yang berkualitas baik merupakan hasil dari suatu proses panjang di tingkat pembibit. Ditentukan dari saat masih berupa telur di dalam tubuh induk, proses koleksi telur tetas, penetasan hingga sampai di tangan peternak komersial. Ayam pembibit yang sehat dengan pakan yang mengandung nutrisi seimbang dan bebas dari mikotoksin, mempunyai program vaksinasi yang ketat, lingkungan kandang yang bersih, serta proses koleksi, penyortiran telur yang akan masuk ke hatchery secara ketat akan menghasilkan DOC yang berkualitas. Dan dibarengi dengan manajemen transportasi yang baik dari hatchery hinggá sampai ke tangan peternak akan menjamin kualitas DOC tersebut.

Maternal antibodi yang tinggi didapat dari induk yang sehat dan divaksin secara teratur dan berkesinambungan. Vaksinasi IBD pada induk biasanya dilakukan sebelum masa produksi dan diulang lagi pada umur 40-45 minggu, dimana pada saat ini biasanya titer antibodi induk sudah menurun. Vaksinasi ulangan ini dilakukan untuk menjaga agar antibodi yang diturunkan ke anak ayam tetap tinggi. Maternal antibodi yang tinggi akan melindungi anak ayam dari infeksi agen penyakit pada minggu pertama kehidupannya (2-3 minggu pertama).

Untuk mendapatkan DOC yang sehat seperti di atas didapat dari telur tetas yang beratnya sudah memenuhi syarat untuk ditetaskan dan berasal dari induk yang tidak terlalu tua ataupun muda, telur tetas bersih, utuh tidak retak ataupun cacat dengan lingkungan kandang yang bersih dan proses penetasan yang baik dan benar. Jika lingkungan kotor dan telur yang ditetaskan pun demikian dikuatirkan embrio juga akan tercemar bakteri seperti E.coli, Pseudomonas, Staphylococcus, dll yang bisa menyebabkan peradangan pada kantong kuning telur (omfalitis).

Kondisi ini akan menyebabkan gangguan proses penyerapan kuning telur yang notabene merupakan sumber makanan di awal kehidupan ayam dan juga maternal antibodi yang diturunkan dari induknya. Atau bisa juga telur tercemar spora jamur Aspergillus, sp, sehingga anak ayam bisa terkena Aspergillosis sejak masih embrio.

Transportasi DOC dari hatchery ke farm juga akan mempengaruhi pertumbuhan DOC tersebut. Kondisi mobil pengangkut harus memenuhi stándar yang ditetapkan. Temperatur dan ventilasi ruangan harus diperhatikan agar anak ayam tidak mendapat stress yang berlebihan dam kecukupan oksigennya terpenuhi.

kualitas pakan

Pakan merupakan komponen pokok yang mengambil porsi terbesar dari biaya produksi suatu usaha peternakan. Kualitasnya pakan ditentukan oleh kualitas bahan baku yang menyusunnya. Dalam manajemen pakan hal yang harus diwaspadai adalah keseimbangan nutrisi dan kadar mikotoksin yang mencemarinya. Kandungan protein tercerna yang sesuai dengan kebutuhan ayam dengan komposisi asam amino yang seimbang, demikian juga dengan kadar lemak, energi, serat kasar dan mineral yang imbang sangat penting untuk pertumbuhan ayam.

Kadar mikotoksin dalam pakan harus diperhatikan, karena akan berpengaruh pada sistem imunitas dan pertumbuhan tubuh ayam. Pada saat musim hujan kita perlu waspada dengan mikotoksin ini. Di musim kemaraupun kadang kadar mikotoksin juga masih tinggi. Tingginya kadar mikotoksin berkaitan dengan proses pemanenan, pengeringan dan penyimpanan bahan baku, terutama yang berasal dari biji-bijian. Untuk meminimalisir jumlah mikotoksin perlu pencegahan tumbuhnya jamur dan pembentukan metabolitnya.

Salah satu caranya dengan pengeringan hinggá mencapai kadar air yang rendah, penyimpanan pada ruangan yang kering, penambahan antijamur (asam organik), dan mikotoksin binder (zeolit, bentonit, dll.). Proses penyimpanan dan pengangkutan bahan baku atau pakan jadi jika tidak memenuhi stándar juga akan mempengaruhi kualitas pakan. Indonesia merupakan negeri tropis dengan curah hujan tinggi, sehingga sangat cocok untuk pertumbuhan jamur. Temperatur dan kelembaban gudang penyimpan tidak boleh terlalu tinggi, yang ideal disarankan pada suhu tidak lebih dari 240 C dan kelembaban < 17 %. Selain itu pemeriksaan sampel bahan baku dan pakan jadi harus dilakukan secara teratur untuk melihat komposisi nutrisi (analisa proksimat) maupun cemaran mikotoksin.

Manajemen pemeliharaan

Manajemen pemeliharaan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu usaha produksi peternakan. Untuk mendapatkan hasil yang baik, yang paling utama adalah menciptakan kondisi dan tempat yang nyaman untuk hidup ayam. Jika ayam hidup di kandang yang nyaman, terjaga dari stres lingkungan, kebutuhan oksigen terpenuhi, cemaran gas amonia minimal, tersedia pakan yang berkualitas dan air minum yang bersih sepanjang hari, dan juga dengan pelaksanaan program vaksinasi terhadap berbagai agen infeksius yang tepat diharapkan ayam terhindar dari berbagai stres baik dari lingkungan makro ataupun agen penyakit yang ada. Dengan begitu ayam bisa tumbuh, berkembang dan berproduksi dengan optimal.

Proses pemeliharaan yang baik dan benar harus dilakukan sejak kedatangan anak ayam, masa brooding dan kehidupan selanjutnya. Masa brooding merupakan waktu yang cukup krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan ayam, sehingga harus dilakukan dengan benar. Populasi dalam satu lingkaran brooder harus diperhatikan, 1 pemanas maksimal untuk 1000 ekor DOC. Jika populasi terlalu padat tingkat stress dan daya kompetisi ayam semakin tinggi dan kecukupan oksigen pun akan berkurang. Untuk mempertahankan suhu badan anak ayam kehangatan ruangan sangat penting karena ayam tidak dierami oleh induknya dan dan pusat pengatur suhu tubuh ayam belum berkembang sempurna. Selain itu buka tutup tirai harus diatur sedemikian rupa sehingga kesegaran udara dan kecukupan oksigen terpenuhi, selain itu juga untuk menghindari paparan angin yang terlalu dini.

Pada minggu pertama merupakan masa pertumbuhan ayam yang paling cepat. Berat badan ayam bisa mencapai 2 kali lipat dari saat menetasnya. Bisa dikatakan saat ini merupakan golden age ayam. Pada masa ini terjadi pembelahan sel cukup tinggi, sehingga kecukupan oksigen dan nutrisi sangat penting. Saat ini juga terjadi penyerapan kuning telur yang di dalamnya terdapat antibodi dari induk. Pemberian pakan sesegera mungkin setelah anak ayam datang akan mempercepat dan mengoptimalkan penyerapan kuning telur. Jika pada masa brooding kehidupan ayam terjaga dengan baik, diharapkan penyerapan antibodi induk terhadap IBD yang ada dalam kuning telur bisa sempurna. Sehingga ayam bisa mengatasi infeksi IBD dini yang bersifat subklinis. Selain itu juga meminimalkan faktor pencetus stres pada ayam seperti menjaga kecukupan pakan, minum, kecukupan sirkulasi udara, pencahayaan dan ketenangan lingkungan.

Program Kesehatan

Kasus Gumboro bisa terjadi jika kekebalan ayam tidak bisa mengatasi serbuan virus lapangan yang masuk ke tubuh ayam dan virus lapangan lebih cepat sampai di bursa dibanding virus vaksin yang diberikan. Hal ini bisa terjadi karena kondisi ayam yang tidak optimal karena stres (manajemen, lingkungan), titer antibodi induk yang rendah, jumlah virus lapangan yang terlalu banyak, strain virus vaksin yang dipakai tidak cocok dengan virus yang ada di lapangan, dan waktu pemberian vaksin yang tidak tepat.

Meminimalisir faktor pencetus stres bagi ayam sangat penting terutama pada awal kehidupan ayam. Jika ayam menderita cekaman baik karena faktor internal ataupun eksternal bisa mengakibatkan daya tahan tubuh ayam menurun. Sehingga agen-agen patogen bisa mudah menginvasi tubuh ayam. Jumlah virus di lapangan yang tinggi akan meningkatkan resiko terkena Gumboro. Antibodi induk ayam hanya bisa melindungi sampai umur sekitar 2-3 minggu, dan daya netralitasnya pun terbatas, jika agen infeksi yang harus dinetralkan terlalu banyak, jumlah antibodi tidak bisa mencukupi sehingga ayam akan kalah juga.

Untuk mengurangi kerja ayam dalam menetralkan antigen, meminimalkan jumlah virus di lapangan sangatlah penting. Ini dilakukan dengan persiapan kandang yang benar-benar baik sebelum kedatangan ayam. Sebelum dipakai kandang harus dicuci kering dan basah sampai bersih, kemudian dilakukan desinfeksi berulang. Lantai kandang juga harus diperlakukan khusus, setelah dicuci bersih diberi larutan soda api kemudian dicuci ulang. Setelah itu diberi larutan kapur hidup. Penyemprotan insektisida ke lantai, langit-langit, tiang, dinding dan sekitar kandang perlu dilakukan untuk membunuh serangga seperti semut, kumbang franky (Altophobius, sp) dll yang bisa menjadi reservoir virus IBD. Penyemprotan kandang secara rutin setelah ayam masuk kandang dengan larutan desinfektan (seperti golongan iodin) akan sangat membantu meminimalisir jumlah virus.

Pemberian antibiotika berspektrum luas selama 3-5 hari pertama kehidupan anak ayam akan membantu mengeliminasi bakteri yang ada pada anak ayam, diharapkan akan mengurangi kasus radang omfalitis sehingga penyerapan kuning telur bis optimal. Selain itu dengan memperkuat kondisi tubuh anak ayam dengan pemberian multivitamin secara rutin akan membantu mengurangi pengaruh cekaman pada anak ayam .

Pencegahan koksidiosis dengan vaksinasi ataupun pemberian koksidiostat diharapkan bisa meminimalisir kejadian koksidiosis pada ayam dan diharapkan secara tidak langsung akan mengurangi kejadian Gumboro ataupun menurunkan tingkat keparahan koksidiosis. Jika ayam terkena koksidiosis pada minggu-minggu awal biasanya resiko terkena Gumboro lebih besar dan parah.

Biosekuriti

Biosekuriti merupakan suatu usaha pengamanan biologik yang bertujuan untuk mencegah masuknya agen-agen patologik ke tubuh ayam. Tidak hanya meliputi proses desinfeksi kandang dan lingkungan, namun merupakan suatu usaha yang terpadu dan berkesinambungan dari tingkat konseptual, struktural dan operasional. Meliputi tata letak, lokasi farm dan kandang, bangunan kandang, pemagaran serta bangunan pendukung seperti kantor, mess karyawan, gudang pakan atau telur, ruang ganti baju, car dip. Juga pola replacement yang all in all out.

Lokasi farm yang tidak berdekatan dengan farm tetangga, hanya terdapat satu macam spesies unggas saja di lokasi, adanya pagar sekeliling farm yang memisahkan farm dengan lingkungan sekitar, dan pola pemeliharaan all in all out, akan mengurangi resiko munculnya kasus penyakit infeksius.

Ketepatan pemilihan vaksin

Pemilihan vaksin yang cocok dengan virus di lapangan sangat penting. Pada saat ini ada banyak macam jenis vaksin yang dijual di pasaran. Dari yang bersifat mild sampai yang intermediate plus. Vaksin yang tergolong mild virusnya bisa menembus titer antibodi induk pada angka 125. Intermediate pada titer 250, sedangkan yang intermediate plus bisa menembus titer di angka 500-800. Berdasarkan grup molekulernya virus gumboro digolongan dalam 6 macam virus. Di Indonesia kebanyakan dari jenis group molekuler 3, 4 dan 5. Kita harus jeli dan pintar dalam memilih produk yang demikian banyaknya di pasar. Vaksin yang mahal tidak selalu menjamin bebas dari kebocoran vaksinasi. Kecocokan strain virus dengan lingkungan setempat harus diutamakan. Jika suatu jenis vaksin sudah cocok di farm kita lebih baik jangan diubah. Virus vaksin yang terlalu keras sebaiknya hindari diberikan terlalu dini, karena bisa merusak sel-sel limfoid di bursa.

Ketepatan Waktu Vaksinasi

Hal yang tak kalah penting untuk meminimalisir kebocoran vaksinasi adalah penentuan waktu yang tepat kapan sebaiknya vaksinasi dilakukan. Untuk dapat menentukan waktu vaksinasi yang tepat, pengukuran maternal antibodi (MAb) terhadap IBD mutlak harus dilakukan. Karena pembibit tidak pernah memberitahukan titer antibodi dari induknya. Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan teknik ELISA. Dengan mengetahui status MAb nya kita dapat melihat tingkat keseragaman titer dan menghitung kecepatan penurunannya, sehingga dapat diperkirakan waktu yang tepat untuk vaksinasi. Vaksinasi yang dilakukan pada saat titer MAb masih tinggi tidak akan efektif, virus vaksin justru akan dinetralisir oleh antibodi sehingga virus tidak akan bisa multiplikasi dan pada akhirnya tidak akan muncul respon vaksinasi yang diharapkan. Dan bisa jadi jika ada virus lapangan yang bisa menembus kekebalan ayam, kejadian Gumboro akan muncul.

Kendala dalam penentuan waktu vaksinasi ini adalah ketidakseragaman MAb dari masing-masing individu. Hal ini terjadi karena DOC berasal dari individu induk yang berbeda-beda baik yang seumur atau bahkan berlainan umur. Oleh karena itu pada saat DOC masuk kita harus mencatat no batch yang biasa ada pada masing-masing box. Ayam yang berlainan no batch biasanya berbeda data induk dari telur tetasnya. Dan untuk masing-masing no batch yang berbeda kita mengambil sample darahnya. Jumlah DOC yang kita ambil untuk sampel minimal 20 ekor. Dan satu hal yang harus kita perhatikan DOC yang kita ambil darahnya haruslah yang sehat bukan DOC yang performansnya jelek, agar titer yang didapat merupakan gambaran titer MAb sebagian besar ayam . Kalau kita ambil DOC yang jelek, bisa jadi gambaran titer yang kita dapat juga kurang bagus, dan itu bukan pencerminan dari kelompok ayam tersebut.

Untuk penghitungan prediksi waktu vaksinasi biasanya digunakan rumus van Deventer. Rumus ini dapat dipakai baik untuk ayam pedaging, petelur maupun pembibit. Hal yang harus diketahui adalah waktu paruh MAb IBD berbeda untuk setiap tipe ayam, untuk ayam pedaging 3-3,5 hari, ayam petelur 5-5,5 hari, pembibit 4,5 hari. Selain itu kita juga harus tahu jenis vaksin IBD yang akan digunakan, apakah mild, intermediate ataupun intermediate plus, karena ini untuk mengetahui break through titer (angka titer di mana virus vaksin bisa menembus MAb ayam) dari virus vaksin. Jika menggunakan vaksin yang mild break through titer nya sekitar 125, intermediate plus sekitar 500 dan yang hot di titer 1000.

Cara penghitungan prediksi waktu vaksinasi :

Hari vaksinasi = T1/2 x ( Log2 titer ââ‚“ Log2 target titer)) + umur saat sampling + angka koreksi

T1/2 : waktu paruh MAb (broiler : 3 hari, layer: 5, breeder: 4,5 hari)
Titer: titer MAb (jika CV bagus vaksinasi bisa sekali untuk perlindungan 75 %, namun jika CV jelek vaksin 2 kali untuk perlindungan di 20 %dan 70 % atau 40 dan 90 %)
Titer target: titer MAb di mana virus vaksin bisa menembusnya ( mild: 125, intermediate plus: 500, hot: 1000) tergantung pada spesifikasi masing-masing produk vaksin
Umur sampling: Umur pada saat pengambilan darah
Angka koreksi: tambahan hari jika sampling dilakukan pada umur ayam 0-4 hari (diasumsikan pada 4 hari pertama kehidupan ayam belum terjadi penurunan MAb karena masih adanya penyerapan kuning telur, jika sampling umur 1 hari koreksinya 3, umur 2 hari koreksinya 2, 3 hari koreksinya 1 dan umur 4 hari koreksinya 0).

Kasus Gumboro tidak bisa kita anggap enteng dan sepele, baik berat ataupun ringan akan merugikan farm kita, namun kebocoran vaksinasi tersebut masih bisa kita minimalisir. Tentunya dengan eliminasi faktor-faktor pencetus, sikap disiplin dan konsistensi dalam penerapan manajemen pemeliharaan seperti persiapan kandang yang baik, pemilihan DOC yang berkualitas, menjalankan manajemen pemeliharaan yang sesuai stándar, penerapan biosekuriti yang konsisten, pemilihan jenis vaksin dan waktu vaksinasi yang tepat diharapkan bisa menekan bahkan menghilangkan kasus IBD di farm kita, sehingga kerugian ekonomis akibat IBD bisa kita hindari. Ratriastuti Suwadji 

Label:



Sekilas tentang penyakit pullorum




Penyakit pullorum adalah penyakit yang sudah lama terkenal di seluruh dunia peternakan, penyakit ini biasanya sering dan terjadi banyak kematian di mesin penetasan (incubator) yang dapat mengakibatkan kerugian yang fatal terhadap sebuah perusahaan yang ayam nya terjangkit pullorum ini.

Penyakit pullorum di sebabkan oleh organisme nomotile salmonela,
Peternakan unggas , kalkun, burung puyuh, bebek burung merpati dapat menderita dari penyakit pullorum juga.  Ayam ras pedaging (atau yang biasa di sebut dengan ayam broiler) lebih rentan terhadap penyakit pullorum ini, Pullorum adalah penyakit yang menyerang anak ayam baru menetas, bawaan dari induk dan di bawa melalui telur yang terinfeksi penyakit ini. 

Kematian ayam akan kerap terjadi pada usia 2 hari samapi usian 7 hari setelah di tetaskan. jika telur memiliki infeksi selama menetas (umur terinfeksi) dan jika telur tersebut mendapatkan infeksi setelah menetas, maka penyakit yang timbul akan menunjukkan gejala sekitar 10 hari setelah infeksi. sampai usia 3 minggu.

Anak ayam yang baru menetas dapat mati tanpa menunjukkan gejala apapun. ayam akan mati secara mendadak tanpa kita sadari penyebabnya..
gejala ini seperti menunjukkan gejala gejala mirip dengan penyakit tipus ringan, seperti
berkerumun di dekat sumber panas, terlihat anak ayam seperti kedinginan yang kuat, padahal suhu pemanas cukup mendukung untuk tahap brooding, 

sifat tidur , ayam malas dan tidak aktip seperti layaknya ayam normal, 
kehilangan nafsu makan  kadang2 terlihat diare putih, untuk tahap ayam dewasa kadang-kadang terlihat seperti penyakit tifus jenis unggas


Infeksi untuk anak ayam berasal dari telur yang terinfeksi. Dalam inkubator jika ayam yng sakit menetas, maka akan menyebarkan penyakit nya kepada ayam yang sehat lainnya.. jika ayam sudah mulai di indukan (brooding) maka infeksi secara tidak langsung akan terjadi melalui air minum, makanan, atau melalui kotoran (berak ayam) yang terinfeksi. atau menghirup debu yang sudah mengandung bakteri. dan ada juga pembawa penyakti ini adalah diantaranya burung liar yang secara bebas hijrah dari tempat yang terinfeksi ketempat yang sehat.. maka bisa mengakibatkan penyebaran melalui burung liar tersebut..

Jika Ayam dewasa (yang sudah menelur) dan ayam tersebut terinfeksi oleh penyakit pullorum ini, maka hasil dari ber-telur akan mencapai  hingga 34 persen telur yang pasti terinfeksi. Ayam yang tidak normal (terinfeksi)_ akan menyebabkan fektor terhadap ayam yang sehat, ayam yang sakit ini bisa menularkan penyakit nya..

Untuk perawatan bisa memberikan obat atau antibiotik seperti:
  • Amoxycillin,
  • poteniated sulponamide,
  • tetracylines, 
  • fluoroquinolones.  
Untuk mengontrol dan pencegahan dari semakin menyebarnya penyakit ini adalah dengan melakukan pemeriksaan minimal 1 bulan satu kali di ayam jenis GGP dan GP (secara rutin). atau ayam indukan lainnya.  dan dengan rutin memberantas tikus yang ada di dalam persekitaran kandang ayam anda, dengan memberikan racun tikus atau dengan cara jalan lain (terserah) dengan tujuan untuk membasmi tikus yang menjadi vektor penyebaran terinfeksi nya ayam2 yang ada di dalam kandang.
dan jika terlihat adanya gejala ini, maka dengan memusnahkan atau membunuh ayam yang terinfeksi adalah jalan yang paling tepat yang harus di lakukan.

KESIMPULAN:
Penyakit pullorum penyebaran nya di sebabkan dari ayam parent (induk) melalui telur yang terinfeksi, dan jika telur tersebut terinfeksi, dan setelah di tetaskan, maka ayam yang berhasil menetas dari incubator akan terinfeksi oleh penyakit tersebut,`

dan jika ayam tersebut berhasil hidup sampai tahap bertelur, maka ayam tersebut akan terus dan terus menghasilkan telur yang terinfeksi..
maka sebaiknya ayam tersebut di musnahkan.
demikian sekilas tentang penyakit pullorum tersebut.

Label:



Jumat, 24 Februari 2006

Mengenal Radang Usus Nekrotik pada Ayam




Radang usus nekrotik (Necrotic Enteritis/NE) disebabkan oleh Clostridium perfringens tipe A dan C. Manifestasi penyakit ini pada dinding usus berupa luka berdarah (lesi hemorrhangis)sampai kematian jaringan (nekrose) mukosa usus.
NE banyak ditemukan pada ternak unggas, khususnya pada ayam pedaging dan ayam petelur. Akan tetapi kejadian penyakit ini sering kurang dikenali atau kurang diperhatikan oleh peternak. Pasalnya, kejadian penyakit yang banyak ditemukan di lapangan seringkali dalam bentuk subklinis, dengan tanda-tanda klinis diare, feed conversion ratio (FCR)-nya jelek, dan pertumbuhannya juga kurang bagus. Pada NE subklinis tidak menimbulkan kerugian yang nyata, seperti kematian dalam jumlah besar, sehingga masalah tersebut kurang diperhitungkan oleh peternak.
Secara normal, kuman Cl. Perfringens memang sudah ada di dalam saluran pencernaan ayam sehat, namun dalam keadaan tertentu, misalnya terjadi gangguan keseimbangan sistem pencernaannya, kuman tersebut akan dapat berproliferasi (memperbanyak diri) dan memproduksi toksin sehingga dapat menimbulkan penyakit.

Menimbulkan Kerugian
CL. Perfringens Tipe A dan C dan toksin alfa dan beta sebagai penyebab NE pada ayam. Bakteri ini termasuk Gram positif, berbentuk batang dan bersifat anaerob. Toksin alfa dihasilkan oleh Cl. Perfringens tipe A dan toksin alfa dan beta dihasilkan oleh Cl.
Perifringens Tipe C. Toksin inilah yang dapat menyebabkan nekrose pada mukosa (selaput lendir) usus. Peningkatan populasi Cl. Perfringens pada usus akan disertai dengan pembentukan enterotoksin yang menyebabkan kematian dan banyak menimbulkan kerugian ekonomi.
Umumnya NE terjadi karena beberapa kondisi akibat komplikasi akhir yang akut dari penyakit usus utama, misalnya akibat koksiodiosis, migrasi cacing ascarida, dsb. Juga dapat terjadi, apabila keseimbangan mikroflora dalam usus terganggu, karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau faktor fisik yang merusak pertahanan usus. Jadi perlukaan mukosa usus (akibat koksidia atau cacing askaris) merupakan faktor predisposisi terjadinya NE. Selain itu, tingginya protein hewani (tepung ikan, tepung tulang, dsb), agen penyakit yang bersifat imunosupresif (chiken anemia virus/CAV, Gumboro dan Marek) juga berpengaruh bagi timbulnya NE.
Di dalam usus ayam terdapat ratusan mikrobia (bakteri, protozoa, virus dan berbagai mikroorganisme lainnya). Cl. Perfringens merupakan salah satu komunitas yang secara normal ada dalam jumlah yang rendah. Namun apabila lingkungan berubah, kuman tersebut akan merubah metabolismenya dan mulai menimbulkan kerusakan.
Selain di dalam fases, Cl. Perfringens juga dapat ditemukan di dalam tanah, debu, pakan yang terkontaminasi dan liter atau isi usus. Pada ayam sehat, kuman ini dapat dijumpai dalam jumlah di bawah 100 colony forming unit/CFU per gram isi usus. Namun pada kasus NE atau NE subklinis, jumlah Cl. Perfringens dapat meningkat menjadi 106 sampai 108CFU/gram isi usus. NE biasanya terjadi pada ayam pedaging umur 2-5 minggu dengan sistem kandang berlantai. Tetapi ledakan penyakit NE pada ayam petelur komersial yang berumur 3-6 bulan dapat terjadi pada kandang sistem lantai atau kandang baterai.

Bisa Mati Mendadak
Gejala klinis NE yang terlihat berupa: depresi, penurunan nafsu makan, malas bergerak, diare dan bulu kusam. Gejala klinis ini berlangsung singkat, karena seringkali ayam mati mendadak. Dalam pemeriksaan bedah bangkai (secara Patologi Anatomi) dijumpai kerusakan usus kecil, terutama di daerah jejenum dan ileum, tetapi kelainan pada sekum dapat pula terjadi. Usus menjadi rapuh dan berisi gas. Lapisan usus dilapisi oleh lapisan pseudomembran berwarna kuning kecoklatan atau hijau. Bercak-bercak pendarahan dapat juga ditemui. Secara eksperimental, penebalan mukosa duodenum dan jejenum dapat ditemui setelah 3 jam inokulasi. Setelah 5 jam terjadi nekrosis mukosa usus, kemudian berkembang menjadi fibrinonekrotik yang lebih parah dengan pembentukan membrane diptheric. Secara mikroskopis, terlihat kolonisasi Cl. Perfringens pada epitel vili usus yang disertai nekrosa koagulatif dari mukosa.
Diagnosa NE didasarkan pada sejarah terjadinya penyakit, kematian hewan yang mencolok, gejala klinis, kelainan patologik berupa kerusakan mukosa usus, hepatitis dan isolasi agen penyebabnya. Sedangkan pada kasus NE subklinis, biasanya tidak terjadi kematian ayam dalam jumlah yang mencolok, tetapi ditandai adanya diare pada sejumlah ayam yang terserang, pertumbuhan yang tidak normal dan FCR yang jelek. Dalam NE sub klinis terjadi peningkatan Cl. Perfringens pada usus ayam.
Gejala klinis NE pada ayam yang mungkin muncul pada minggu pertama sampai pada minggu ke tujuh dapat dilihat pada Tabel 1.

Pengendalian Penyakit
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengendalikan masalah NE pada ayam antara lain: pertama, menjaga kebersihan kandang sangat penting. Kelembagaan litter atau alas kandang harus diperhatikan. Sebelum penempatan hewan harus dilakukan desinfeksi dengan kombinasi desinfektan yang dapat membunuh oocyst koksida. Penggunaan desinfektan bersektrum luas (virusidal, baktersidal) diharapkan dapat efektif terhadap virus, bakteri dan fungal.
Kedua, penggunaan antibiotik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit harus dengan dosis yang tepat. Pemakaian antibiotik yang berlebihan dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Penggunaan antibiotik dalam pakan (bacitrasin, lincomycin, dsb) dapat menimbulkan resistensi Cl. Perfringens. Oleh karena itu, beberapa Negara di Eropa telah melarang penggunaan antibiotik dalam pakan untuk memacu pertumbuhan (Growth promoter) untuk pencegahan penyakit.
Ketiga, pemberian kultur hidup mikroorganisme yang diperoleh dari ayam dewasa yang sehat pada anak ayam dapat mengatasi kolonisasi bakteri pathogen (competitive exclusion). Diharapkan bakteri non pathogen akan berkompetensi dengan bakteri pathogen. Cara ini dilakukan untuk mengatasi NE, ternyata dapat memberikan hasil baik dan dapat memperbaiki penampilan ayam serta efektif mengatasi pengaruh NE pada ayam.
Keempat, vaksinasi pada induk ayam dapat melindungi ayam terhadap toksin. Di lapangan, penggunaan vaksin pada induk ayam untuk melindungi anak turunannya, secara ekonomis sangat menguntungkan.
Drh. Tarmudji, MS
Peneliti pada Balai Besar Penelitian Veteriter, Bogor.  

Label:



Penyakit pada Budidaya Udang Windu



Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah ;
1. Bintik Putih. Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalanbudidaya udang. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang dalam satu kolam dapat mati. Gejalanya : jika udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar, terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya adalah dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tidak stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak tersebut tambak perlu dipupuk dengan TON.

2. Bintik Hitam/Black Spot. Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga gejala lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang. Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.

3. Kotoran Putih/mencret. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak. Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kematian. Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar tambak/siphon secara rutin.

4. Insang Merah. Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.

5. Nekrosis. Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri dalam air tambak. Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat tubuh, terutama pada ekor. Cara mengatasinya adalah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah perlakuan TON 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera melakukan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan pengapuran.
Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam budidaya. Oleh karena itu perlakuan TON sangat diperlukan baik pada saat pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.

Label:



Kamis, 23 Februari 2006

Mengatasi cacar, benjolan seperti kutil dan tumor pada burung dan merpati




Benjolan seperti daging tumbuh, baik besar atau kecil, kasar (berkeropeng) maupun halus, sering kita jumpai pada bagian tubuh burung dan merpati. Kalau Anda menemui hal seperti, baik di ruas kaki, muka, dekat paruh, dan beberapa bagian lain yang terbuka, atau bahkan di dalam mulut burung, tidak perlu panik meski harus segera melakukan tindakan pengobatan.
Pada burung kenari misalnya, sering tumbuh daging sebesar jewawut di sekitar paruh dan atau sekitar matanya. Pada burung merpati misalnya, sering kita jumpai bejolan daging tumbuh di dekat dubur, di sekitar paruh bahkan di dalam mulutnya.
Cacar
Untuk benjolan kecil seperti yang tumbuh pada burung kenari, itulah yang sering disebut pox (cacar burung). Karena tumbuh di kenari, maka disebut canary pox. Kalau dia tumbuh pada burung merpati, disebut pigeon pox. Gejala lain yang muncul bisa berupa kutil di sudut mulut dan kaki, tetapi paling fatal akibatnya adalah jika tumbuh di saluran pernafasan (dipteri).
Penyakit ini disebabkan oleh virus cacar (avian poxvirus).
Untuk mengatasi hal ini, bisa dilakukan hal-hal  sebagai berikut:
1. Karena canary pox disebabkan oleh virus dan dapat ditularkan oleh nyamuk, maka kurungan perlu diselimuti dan diisolasi.
2. Olesi benjolan-benjolan tersebut dengan BirdCream sehari sekali selama sepakan.
Tumor
Ada juga benjolan, bahkan bisa berada di dalam mulut, yang bukan disebabkan oleh cacar, tetapi oleh adanya papilomatosis atau tumor tidak ganas pada kulit. Pada kasus lain, bisa jadi itu disebabkan oleh adanya infeksi sejenis jamur yang disebut Candida albicans.
Potongan hasil operasi papilomatosis. Foto dari www.myoops.org.
Dalam kasus-kasus tersebut,  perlu dilakukan:
1. Bagian yang mati atau membusuk dipotong (hati-hati apabila ada pendarahan), kemudian ditotol-totol dengan BirdCream. Lakukan pengolesan setiap hari sampai sembuh.
2. Berikan obat BirdBlown dengan cara pemakaian seperti disebutkan dalam brosur Om Kicau.
3. Burung sebaiknya dipisahkan untuk keperluan perawatan dan pemberian pakan bergizi baik, dengan kandungan vitamin dan mineral yang tinggi. Jika burung kesulitan makan, maka pakan bisa kita lolohkan.
Candida Albicans
Seperti disebutkan di atas, infeksi pada mulut atau juga saluran pencernaan lain hingga sampai dubur, bisa disebabkan oleh adanya infeksi Candida Albicans. Candida albicans adalah jamur yang biasa tumbuh pada lingkungan yang memungkinkan dan pada burung bisa mempengaruhi saluran pencernaan.
Saluran pencernaan, daerah rawan serangan candida albicans.
Seperti disebutkan dalam pethealthna.lifelearn.com, hal itu merupakan penyebab umum dari apa yang disebut “sour crop” atau “crop infection” (ingluvitis), terutama pada burung muda. Penyebaran bisa melalui burung dewasa, air, lingkungan yang terkontaminasi dan tangan manusia yang memberikan pakan. Bahkan pemelihara burung, bisa sudah terinfeksi jamur ini, yang dikenal sebagai infeksi ragi atau jamur.
Candida dapat menjadi penyebab primer atau sekunder dari terjadinya infeksi. Candida dalam jumlah kecil, biasanya dianggap sebagai penghuni umum/normal pada saluran pencernaan burung. Gangguan atau ketidakseimbangan populasi bakteri di saluran pencernaan bisa menyebabkan pertumbuhan cepat dari Candida.
Menangani infeksi candida dapat digunakan obat antijamur. Atau lakukan pengobatan dengan mycostatin. Namun demikian akan labih baik jika hal itu dilakukan pula dengan melakukan sanitasi memakai FreshAves, menjaga kebersihan kebersihan makanan dan lingkungan burung Anda.

Label: ,



Senin, 20 Februari 2006

Penyakit ORF ( DAKANGAN/BENGOREN ) pada Ternak




PENDAHULUAN
Penyakit ORF atau penyakit Dakangan/Bengoren merupakan penyakit yang sangat menular, menyerang hanya pada kambing dan domba terutama pada kulit bibir atau disekitar leher.

Penyakit ini mempunyai arti ekonomi penting karena dapat menyebabkan :
  • penurunan berat badan
  • kematian pada hewan muda
  • dapat menular pada manusia


PENYEBAB
Penyakit Dakangan atau Bengoren ini disebabkan oleh Parapoxvirus dari famili Poxviridae.

PENYEBARAN
ORF hanya menyerang domba dan kambing. Hewan yang sembuh dari penyakit ini mempunyai kekebalan yang berlangsung lama dan infeksi ulang biasanya tidak pernah terjadi.

Pada daerah enzootik ORF ditemukan pada hewan muda, sedangkan pada daerah yang baru pertama kali diserang, ORF ditemukan pada segala umur.

Penularan penyakit ini dapat melalui :
  • kontak langsung
  • luka-luka kulit waktu menyusui
  • kontak kelamin
  • kontak dengan bahan yang tercemar / mengandung kuman ORF


Penularan pada manusia terjadi melalui kontak dengan hewan sakit atau bahan tercemar.

GEJALA PENYAKIT
Masa inkubasi berlangsung kurang lebih 2 hari. Gejala klinis yang terjadi adalah peradangan pada kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat genital, ambing pada hewan yang sedang menyusui serta pada tempat yang jarang ditumbuhi bulu.
Peradangan berubah menjadi erythema, lepuh-lepuh pipi yang mengeluarkan cairan, membentuk kerak-kerak yang mengelupas setelah 1-2 minggu. Apabila lesi hebat maka akan terjadi kelainan menyerupai bunga kol. Kalau tidak ada infeksi sekunder lesi-lesi ini biasanya akan sembuh setelah penyakit berlangsung 4 minggu.
Pada manusia penyakit ini berupa lepuh-lepuh pada tangan dan lengan, lesi kemudian mongering serta mengeras setelah 2-3 minggu.

PERUBAHAN PASCAMATI
Pada bedah bangkai tidak ditemukan kelainan yang nampak pada bagian tubuh yang lain, kecuali pada kulit..
Bahan pemeriksaan berupa keropeng kulit disertai jaringan dibawahnya, diawetkan dalam gliserin NaCl 50% untuk pemeriksaan virologik dan dalam formalin 10% untuk pemeriksaan histopatologik.

DIAGNOSIS
Orf didiagnosa berdasarkan gejala klinis, patologis anatomis dan pemeriksaan laboratorium dengan melakukan isolasi dan identifikasi dengan uji serologis.
Diagnosa banding : Penyakit yang mirip dengan Orf adalah cacar domba dan cacar kambing. Pada penyakit cacar lesi dimulai dengan hemorhagik dan terjadi pada kulit bagian luar meluas keseluruh tubuh termasuk organ dalamnya.

PENGOBATAN
Hewan yang sakit diobati dengan antibiotik spektrum luas untuk infeksi sekunder dan vitamin, sedangkan kulit yang terjangkit diobati lokal dengan salep atau Iod tincture.

TINDAKAN PENCEGAHAN PENYAKIT
Pencegahan penyakit ORF atau Dakangan dapat dilakukan dengan vaksinasi pada daerah enzootik. Vaksin dibuat dari keropeng kulit penderita, dibuat tepung halus dan disuspensikan menjadi 1% dalam gliserin.
Vaksinasi pada hewan muda dilakukan dengan mencacar kulit pada sebelah dalam paha, sedang pada hewan dewasa dilakukan disekitar leher beberapa minggu sebelum persusuan.
Pada daerah yang belum pernah terjangkit penyakit ini dianjurkan tidak divaksin.

TINDAKAN PENGENDALIAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
Hewan yang menderita sakit dengan gejala klinis diatas segera diasingkan dari hewan yang sehat dan diobati.

PEMOTONGAN HEWAN
Penyakit ini dapat menular pada manusia, sebaiknya daging dari hewan sakit jangan dikonsumsi. Oleh karena itu hewan sakit jangan dipotong

Label:



Beberapa Penyakit Lele dan Cara Penanggulangannya



Bermacam penyakit lele sering kali membuat pusing para pengusaha budidaya lele, baik yang berkecimpung di segmen pembenihan maupun pada segmen pembesaran, bahkan tidak jarang penyakit yang menyerang lele berujung pada kematian sehingga mengakibatkan kerugian besar bagi para pengusaha ternak lele, penyakit lele bisa diakibatkan dari bermacam faktor, baik karena faktor alam maupun dari kesalahan tata cara pembudidayaan.

Banyak cara yang bisa dilakukan dalam hal penggulangan penyakit lele, diantaranya dengan menggunakan bahan-bahan yang sudah tersedia di alam atau disekitar lingkungan kita, selain lebih murah dan mudah didapat, pengobatan penyakit lele dengan bahan-bahan alami relatif lebih aman, baik untuk lele maupun untuk lingkungan sekitar.

Contoh penanggulangan penyakit lele dengan bahan alami yang sudah dilakukan oleh beberapa pembudidaya ikan lele :

1.    Radang usus, penyakit lele ini biasanya menunjukkan gejala lele akan terlihat berdiri tegak dan bagian kumisnya menyembul di permukaan air, beberapa pembudidaya menyebutnya seperti tiang listrik, jika ikan lele rekan-rekan pembudidaya mengalami penyakit lele seperti ini, penanggulangannya bisa dengan cara menggunakan buah mengkudu yang sudah masak/mateng, caranya mudah, ambil buah mengkudu yang sudah masak lalu masukkan pada kolam lele yang sakit, untuk ukurannya disesuaikan saja dengan besaran kolam, misalnya untuk kolam ukuran 2×4 cukup dengan 1 atau 2 buah mengkudu.

2.    Radang Insang, penyakit lele seperti ini biasanya menunjukkan ciri insang lele yang memerah. Penanggulangan penyakit lele seperti ini bisa dengan cara menggunakkan daun sirih dan daun pepaya. Caranya, ambil 10 lembar daun sirih dan 10 lembar daun pepaya segar, lalu rebus dengan 1 liter air (1gayung) biarkan mendidih sampai  air sat/susut menjadi tinggal 1 gelas. Setelah itu larutkan hasil rebusan air yang 1 gelas tadi dengan 10 gelas air bersih, hasil campuran inilah yang bisa digunakan, tebarkan larutan ini secukupnya pada permukaan air kolam yang terkena penyakit, dosis harus disesuaikan dengan luas kolam.

3.    Asam lambung, lele yang terkena penyakit ini biasanya akan terlihat kembung karena berisi gas/angin dan cairan, untuk penyakit ini penanggulangannya bisa dengan cara seperti penanggulangan pada penyakit radang insang.

4.      Penyakit  jamur/radang kulit, biasanya pada kulit lele akan terlihat bercak-bercak putih, atau jika yang sudah parah kulitnya seperti terkelupas, untuk penyakit lele  jenis ini, penanggulangannya bisa dengan ramuan seperti pada penanggulangan pada penyakit radang insang (no.2) hanya saja agar khasiat ramuan lebih efektif, sebaiknya ikan lele yang sakit direndam dalam baskom yang telah diisi dengan ramuan tersebut. jika jumlah ikan lele yang  sakit banyak, penanggulangan penyakit lele bisa dengan cara seperti di bawah ini :

a. Kuras air kolam 50%

b. Siapkan baskom/wadah yang bisa menampung jumlah ikan yang akan diobati, isi dengan ramuan daun pepaya dan daun sirih (yang telah dicampur dengan air bersih 10:1)

c. Masukan ikan lele  kedalam baskom/wadah, waktunya disesuaikan saja, jangan terlalu lama, jika ikan lele terlihat sudah megap-megap, berarti sudah cukup.

d. Kembalikan ikan lele ke dalam kolam, tambahkan air kolam seperti volume awal, sebaiknya gunakan air yang berkualitas baik (Sudah dikompos atau air yang sudah melalui proses persiapan untuk air kolam).

e. Untuk membantu proses penyembuhan, boleh menebar cairan ramuan tersebut ke dalam kolam (cara no.2), ditambah dengan memasukan buah mengkudu yang sudah masak/mateng (cara no.1)

Ini hanyalah beberapa contoh cara penanggulangan penyakit lele dengan menggunakan bahan-bahan alami yang telah dilakukan oleh beberapa pembudidaya, jika para pembaca memiliki pendapat atau resep obat yang lain, silahkan dicoba dan jangan lupa sharing informasinya ke ternaklele.com semoga saja dapat menambah wawasan dan berguna untuk para petani dan pembudidaya lele.

Label: ,