Rabu, 08 Februari 2006

Usaha Dengan Modal Dengkul



Untuk memulai usaha, tidak melulu selalu berawal dari modal uang. Karena segala sesuatunya sebenarnya berasal dari ide-ide dan impian yang tiap orang miliki.

Tapi sebrilian apa pun ide itu tidak akan ada artinya jika kreativitas yang ada tidak dikembangkan. Untuk itu, diperlukan pentingnya keberanian mengambil risiko dalam berbisnis.

“Jika ada modal usaha yang lebih penting dari uang, berapa pun besarnya, modal itu adalah ide-ide cemerlang dan impian yang menggairahkan pemiliknya. Kebanyakan wirausaha terkemuka memulai usahanya dengan modal dengkul,” jelas Andrias Harefa dalam bukunya, Berwirausaha dari Nol, terbitan Daras Book.

Sebagian besar orang sukses di dunia mengawali kesuksesannya dengan ide-ide yang tidak lumrah, kreatif dalam mengimplementeasikan idenya, serta berani untuk merealisasikanya kreasinya tersebut.

Tapi, apakah tiga hal itu cukup. Ternyata belum, wirausahawan harus jeli melihat masalah sebagai peluang. Masalah-maslah yang muncul dalam kehidupan justru memunculkan peluang.

Pasalnya, masalah yang dihadapi banyak orang memerlukan solusi, alternatif pemecahan, jalan keluar. Dan itu dapat memberikan nilai ekonomis bagi mereka yang mampu menawarkannya sesuai kebutuhan yang ada.

Akan tetapi, tidak semua peluang baru yang muncul itu memberikan peluang usaha yang bertahan lama. Di mana saluran pemasaran tidak terjamin ke depannya karena masalah yang dihadapi orang banyak itu berangsur memulih.

Ada satu hal yang membuat wirausahawan nyaman dalam menjalankan usahanya, yakni memilih usaha sesuai dengan hobi dan minat. Dengan berusaha berdasarkan hobi ini, orang umumnya berpendapat kekayaan dan popularitas hanyalah konsekuensi, bukan tujuan utama.

Sikap menjajal hal-hal baru juga perlu dilakukan. Dengan ini, maka kemungkinan untuk melebarkan sayar usaha terbuka lebar. Karena potensi dari hal yang belum tergarap dapat terpetakan.

Selanjutnya, jangan pernah menyerah jika apa yang dihasilkan tak sesuai harapan. Kegagalan merupakan keberhasilan yang tertunda, tetap komit atas apa yang dilakukan dengan inovasi yang dilakukan bakal membalik kegagalan menjadi kesuksesan.

Sumber : http://www.cuwelamomang.com/usaha-dengan-modal-dengkul/


www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label: ,



Selasa, 07 Februari 2006

Sukses = Ketekunan + Kreativitas



Penulis : Ade Asep Syarifuddin

TETANGGA sebelah kanan saya adalah seorang tukang jahit. Dia bilang ayahnya, kakek dan neneknya dan para leluhurnya juga tukang jahit. Sudah berpuluh-puluh tahun menjadi tukang jahit. Kondisi kehidupannya tidak kaya, juga tidak miskin. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Walaupun kalau ada biaya yang cukup besar terpaksa harus cari utangan.

Anehnya, jahitan yang digarapnya adalah order tetap dari seorang juragan. Dengan upah fix cost per satu pakaian Rp 15.000 dari 15 tahun yang lalu tidak juga ada perubahan sampai sekarang. Sepertinya merupakan hal yang tabu kalau harus menawar tarif karena dari dulu sudah diberi order tetap. Mereka beranggapan order tetap itu adalah bentuk dari kemurahan dan kebaikan hati sang juragan.

Sementara tetangga sebelah kiri saya juga tukang jahit. Bedanya, dia sekolah tukang jahit di kota besar selama satu tahun. Selain menjahit, juga belajar pola dan desain. Yang dia kerjakan bukan hanya menerima orderan dari seseorang, tapi dia sendiri kadang-kadang mencari orderan. Tarif yang ditawarkan bermacam-macam, kalau hanya menjahit pakaian dengan pola yang sudah ada bisa murah. Kisaran Rp 50.000 saja. Tapi kalau mau membuat pakaian dengan jenis yang lain ada dua harga, pertama harga menjahit dan kedua harga membuat pola sesuai pesanan. Harga membuat pola bisa 3-5 kali lipat harganya.

Pekerjaan tetangga saya yang kedua ini belum lama dilakukan. Dia berprofesi sebagai tukang jahit sejak 3 tahun yang lalu. Sebelumnya dia adalah seorang marketing yang berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi karena perusahaannya bangkrut, dia alih profesi menjadi tukang jahit. Uang pesangonnya digunakan untuk kursus menjahit dan membuat pola. Bisa dibandingkan, tetangga kedua mendapatkan penghasilan jauh lebih besar daripada tetangga yang pertama.

Apa perbedaan penjahit pertama dan penjahit yang kedua? Saya menilai penjahit pertama adalah tipe orang yang tekun, sabar dan nrimo. Sehingga pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak berpuluh-puluh tahun terus diwariskan ke generasi berikutnya. Tapi memang tukang jahit pertama miskin kreativitas. Sementara tukang jahit yang kedua adalah tipe orang yang kreatif. Dia tidak mau menerima keadaan yang itu-itu saja, dia belajar berbagai macam hal. Bila mendapatkan order atau membeli barang, kalau bisa ditawar kenapa tidak. Tipe yang kedua ini dikategorikan sebagai penjahit yang kreatif sekaligus tekun. Tekun karena dia juga menjalaninya dengan serius, tidak dikerjakan asal-asalan.

Di zaman yang serba berubah seperti sekarang ini, ketekunan saja tidak cukup. Memang ketekunan adalah modal awal untuk mencapai tujuan. Tapi ketekunan tanpa kreativitas bisa benar-benar berbahaya. Mengapa berbahaya? Kalau mengambil contoh tukang jahit di atas, bila suatu saat tidak ada order menjahit maka mereka bisa-bisa tidak bisa mendapatkan uang, tidak bisa makan dan akibat-akibat lainnya, karena keterampilan mereka hanya satu. Sementara sikap orang kreatif bila terjadi perubahan situasi ekonomi apakah bentuknya sepi order atau hal lainnya, mereka akan mencari jalan keluar dan belajar hal baru. Sehingga walaupun sepi order di bisnis pertama, dia masih bisa melangsungkan pekerjaannya di bisnis yang lain.

MELATIH KREATIVITAS

Kreativitas itu tidak bisa muncul sendiri, perlu dilatih, diasah dan dilakukan secara terus menerus. Kreativitas itu pekerjaan otak kanan seperti berimajinasi, membayangkan gambaran-gambaran baru, memvisualisasikan ide-ide spektakuler. Bahkan mengabaikan istilah tidak mungkin. Semuanya bersifat mungkin, kalau orang lain bisa melakukan, dirinya juga bisa melakukan juga. Kalau dalam imajinasi masih tergambar, suatu ketika bisa terwujud. Orang-orang Jepang adalah salah satu contoh orang yang memiliki kualitas mental tekun dan kreatif. Tekun karena mau melakukan satu pekerjaan sampai selesai, kreatif karena selalu mencari inovasi baru dari waktu ke waktu. Tidak heran kalau produk otomotif seperti motor dan mobil lahir dari tangan-tangan putera negeri Jepang.

Mengapa Jepang sampai memiliki mental seperti itu? Banyak faktor yang menyebabkannya. Faktor alam cukup dominan, di sana tidak ada sawah, ladang, hutan yang hijau. Jangan harap bisa menanam singkong di Jepang. Gempa bumi pun menjadi langganan Jepang karena letak geografis negeri tersebut berada tepat di antara lempengan bumi. Tapi kondisi yang sulit tersebut memaksa mereka untuk berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Dan betul, jalan keluar ditemukan. Pikiran kita bekerja sesuai dengan program si empunya. Bila si empunya pikiran menyuruh untuk mencari solusi atas satu persoalan, jawaban atas persoalan tersebut segera ditemukan. Sebaliknya bila pikiran dibiarkan tidur dan "nganggur" tidak akan ada hasil apapun.

Tengoklah negara Indonesia yang hijau, subur, menanam singkong langsung jadi. Kondisi alamnya benar-benar memanjakan. Nganggur pun masih bisa makan, apakah dengan tebal muka ikut orangtua terus atau meminta kepada teman. Bahkan tidak sedikit yang sudah menikah masih tinggal bersama orangtua dengan berbagai macam alasan, baik alasan ekonomi atau alasan psikologi kangen orangtua.

Terlepas dari alasan apapun dengan berbagai macam pembenarannya, kondisi di Indonesia seperti itu memunculkan sikap miskin kreativitas, tidak berani dengan risiko, comfort zone dan mencari aman. Paradigma yang muncul adalah lebih baik tetap dengan kebiasaan lama walaupun penuh dengan risiko buruk, tapi risiko itu sudah diketahui sejak lama. Orang malas resikonya tidak punya penghasilan banyak, tapi tetap malas karena risikonya sudah diketahui. Sementara untuk melompat keluar zona nyaman risikonya ada dua, gagal dan berhasil. Kalau berhasil tidak ada masalah baru, tapi kalau gagal ini yang repot. Sementara kegagalan di luar zona nyaman sama sekali belum diketahui risikonya akan seperti apa. Demikian kira-kira mengapa paradigma comfort zone senantiasa dipertahankan.

Pertanyaan yang sering dilontarkan adalah, bagaimana supaya bisa keluar dari zona nyaman? Bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah dengan sungguh-sungguh memaksakan diri keluar dari kebiasaan lama sambil belajar. Ini dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesadaran bahwa hidup ini harus berubah terus kalau ingin tetap survival dan selalu bisa menjawab tantangan yang muncul. Sementara cara kedua dengan tingkat risiko yang lumayan tinggi, bisa berhasil bila disikapi secara positif dan bisa juga gagal bila disikapi negatif. Caranya adalah mengalami persoalan hidup yang berat, apakah di-PHK, rumah kebakaran, merantau keluar kota, orangtua yang menjadi tumpuan meninggal atau kena tipu orang sehingga kekayaannya ludes. Yang berpikir positif akan memulai lagi dari nol dan terus berjalan sambil terus menerus belajar. Yang menyikapi secara negatif, kejadian tersebut dianggap sebagai kiamat dunia yang membuatnya frustrasi, gila bahkan bunuh diri.

Banyak contoh kasus orang-orang yang berhasil melampaui persoalannya. Hellen Keller misalnya, adalah contoh sukses dari orang yang buta dan tuli. Tapi mengapa dia berhasil menempuh pendidikan sampai tingkat Doktor dan menjadi orang yang memiliki kepedulian tinggi pada orang buta dan tuli. Thomas Alfa Edison yang tuli bisa menjadi tokoh besar dalam sains dan contoh-contoh konkret lainnya.

Tidak ada kaitan antara cacat fisik dengan kesuksesan. Kalau mereka yang cacat bisa sukses, mengapa kita yang memiliki struktur fisik yang normal sangat cengeng dan mudah menyerah. Di sinilah perbedaan mental baja dan mental kerupuk. Dan itu perlu latihan terus menerus untuk memiliki mental baja patang menyerah, apapun tantangan yang muncul bisa dihadapi dengan senyuman.
_______________________
*) Penulis adalah General Manager Harian Radar Pekalongan. Bisa dihubungi di asepradar@gmail.com atau http://langitbirupekalongan.blogspot.com

www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label: , ,



Jumat, 03 Februari 2006

Yang Kaya Semakin Kaya, Yang Miskin Semakin?



Tahukah anda, kenapa orang kaya semakin kaya, kelas menengah terus bergumul, dan yang berada di level miskin makin menjadi miskin?

Orang kaya semakin kaya karena begitu penghasilan orang kaya bertambah besar, mreka menunda kesenangan, dan terus menjalani gaya hidup yang sama. Penghasilan yang lebih ini mereka investasikan kedalam aset seperti misalnya membeli saham yang menghasilkan deviden, membangun rumah kost kost-an, ruko yang dikontrakkan, Mall yang
disewakan, membuka bisnis sarang walet, dll.

Begitu seterusnya, sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan pada saat penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut diatas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.

Bagaimana dengan orang menengah?Kenapa mereka bergumul terus secara financial? Ketika orang menengah penghasilannya bertambah besar maka mereka menggunakan kelebihan uang tersebut untuk mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan lain-lain.

Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.

Lalu bagaimana dengan kaum miskin? Orang miskin tidak perduli seberapa besar pun penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran. Orang miskin begitu penghasilannya bertambah besar mereka beli TV yang mereka idamkan, beli jam yang lebih keren, beli hp yang lebih baru, beli baju mahal, makan di restoran mewah, ikut keanggotaan fitness, ikut asuransi yang tidak perlu, dll.

Berada digolongan manakah anda?

Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan lebih banyak uang bagi anda atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakan Anda?

www.blogger-kawunganten.blogspot.com

Label: